Lamunan, Ekspektasi?

ilustrasi suasana puncak gunung (sumber: istimewa)


Lamunan, Ekspektasi?
- NA -

Temaram sinar menyorot memecah hening.
Mereka saling bercengkrama, berselimut pekat hitam langit malam.
Dan aku hanya kembali pada beberapa bulan yang lalu,
di malam yang sama, langit yang sama.
Di dataran yang lain.

Kau terlelap dalam hawa malam,
beriring suara merdu alam.
Sayap-sayap jangkrik bergesekan, angin bertiup menabraki dedaunan,
dahan dan ranting-ranting bersingkuran.
Nada-nada klasik nyanyian sang alam. Lembut...

Aku hanya memasang tangan.
Menengadah semesta.
Harapku kau selalu ada.
Hingga kau dan saya, menjadi kita.
Atau mungkin itu fana?
Padahal kau tampak disana.
Tapi, apa ada aku dalam kamusmu?

Sejenak kuterbangun, dari lamunan di tepi sayu cahaya di bibir jurang dalam.
Ahh, agaknya aku hanya berangan.
Mungkin aku hanya rindu.
Atau mungkin aku terlalu berharap.
"Itukan tak baik!" kata seorang teman.
Entahlah, selayaknya manusia, hidup penuh ekspektasi.
Dan kutak kuasa mencegah diri untuk tak terjatuh.
Dalam pesonamu, nona!

Bangkalan, 20 April 2021


Posting Komentar

0 Komentar