Jalan Suci?

ilustrasi (sumber: istimewa)

 

Jalan Suci?
- NA -

Terlukis indah berseri di puncak jagat bumi.
Membawa tenang sang hati.
Tapi kau tampak murung suram.
Tak kuasa aku lihat.

Sayup-sayup takbir berkumandang, masih terdengar.
Dari bawah perkampungan yg masih berdiri.
Menyadu berpadu kicau burung-burung sore itu berbondong pulang.
Sejenak bersuci, bersujud hadap Sang Raja.

Hempas angin petang di lereng saat itu.
Membawa hawa menusuk ke rusuk.
Angin menabrak dedaunan rimbun itu.
Mencipta nada klasik, khas tanah rimba.
Gerus langkah kaki menggiling ruang petang ketinggian itu.

Esok...,
kulalui lagi jalan suci ini.
Dalam serah sujud.
Usai terjaga semalam.
Menjagamu dari terkaman hari.

Kala pagi, kicau burung seraya bertasbih.
Terduduk aku seorang diri.
Dan kau, enggan menyap.
Hanya balut masamnya seolah benci.

Ku tak mampu menekan rasa dalam hati.
Hanya renung, rangkai puzzle-puzzle rasa.
Bagai sebuah drama film yang menyayat.

Liku rasa mungkin pahit dan asam.
Tak patut jatuh terluka dan mundur.
Hati kadang meronta, tapi kan aku lelaku.
Aku dikutuk tak bisa titikkan air mata.
Dan kau, masih saja muram enggan mengerti hati.

Bangkalan, 8 April 2021

Posting Komentar

0 Komentar