Islam tidak kenal Teroris

 "Islam tidak kenal Teroris"





Selain bermakna damai, Islam adalah revolusi yang menentang kefanatikan Suku, Ras, ideologi dan agama apapun. Hal itu telah terjadi semenjak diumumkannya kebebasan beragama dalam bentuknya yang paling agung:


"Tidak boleh ada paksaan dalam agama! Yang bijaksana itu telah nyata bedanya dari yang sesat. Siapa yang ingkar kepada berhala dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali agama yang kuat." (QS. Al-Baqarah:256).


Islam adalah agama yang ingkar kepada sistem berhala, bukan hanya berhala dalam hati berupa syirik, dsb. Tapi juga ingkar kepada sistem berhala realitas yang bisa berupa fanatisme Ras, suku, dan ideologi tertentu yang berdasar pada mitos. Misalnya, seperti Zionis-Israel yang percaya bahwa bangsa mereka adalah bangsa pilihan tuhan, sehingga karena mitos itu, maka Ras kebangsaan Israel sekarang ini menjadi duri dalam daging bagi umat Arab.


Banyak sekali ayat-ayat pengumuman menentang kefanatikan yang bisa kita cek dalam Al-quran, selain ayat 256 dari surah Al-Baqarah di atas tadi. Misalnya ayat: 99 dalam surah Yunus, ini:


"Jika Tuhanmu menghendaki, tentulah seluruh manusia yang ada di bumi ini akan beriman semuanya. Apakah engkau bermaksud Memaksa manusia agar mereka beriman!".


Berhala kefanatikan Suku, Ras, ideologi dan agama itu telah hancur lebur dan mati 1500 tahun yang lalu atau 15 abad yang lampau. Dan di atas kuburannya, telah tumbuh subur Toleransi yang mutlak sebagai gantinya. Malah penggantinya itu justru men-jaga kebebasan beragama dan kebebasan beribadah, serta kebebasan berpendapat itu telah menjadi kewajiban umat Islam (sekali lagi ditegaskan, Kewajiban umat Islam) untuk kepentingan pemeluk agama-agama lain di dunia islam (mayoritas muslim).


Ketika peperangan diijinkan dalam Islam, dan Al-Quran menjelaskan hikmah peperangan itu ia berkata:


"Orang-orang yang diperlakukan tidak adil diperbolehkan melakukan peperangan. Sesungguhnya Tuhan berkuasa untuk membantu mereka. Orang-orang yang dikeluarkan dari kampung halaman mereka tanpa kebenaran, selain bahwa mereka berkata; Tuhan kami adalah Allah! Kalau tidaklah karena Tuhan menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah akan diruntuhkan kuil-kuil, gereja-gereja, sinagoga-sinagoga dan masjid-masjid, di mana banyak sekali di sebut nama Tuhan". (QS. Al-Hajj: 29-40).


Jika ada yang mau buka Al-Qurannya sekarang, untuk mencocokkan isi terjemahan dan teks aslinya. Tentu saja akan di dapati dalam ayat 40 surah Al-hajj itu tempat-tempat peribadatan para pendeta, orang nasrani, orang yahudi dan orang Islam.


Orang yang paham ilmu bahasa pasti akan segera tahu bahwa tempat peribadatan orang kristen dan orang yahudi didahulukan menyebutnya dari Masjid, untuk menegaskan dengan setegas-tegasnya agar jangan dilakukan pelanggaran terhadap tempat-tempat peribadatan non-muslim itu, dan agar tempat-tempat itu dijaga dengan sebaik-baiknya. Baik di negeri mayoritas muslim atau pun di negara orang muslim menjadi minoritas (Titik!). Ayat itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi atau dibelok-belokkan lagi, karena isi dari pesannya cukup tegas.


Lebih dari itu, Toleransi itu juga mencakup pemberian penjagaan dan keamanan untuk orang-orang musrik (Atheis), yang tidak percaya kepada agama yang diturunkan dari langit, selama ia lemah dan tidak mampu menyakiti kaum muslim dan mengoda mereka agar mereka keluar dari agama islam. Hal ini dilakukan oleh Islam karena melihat mereka punya alasan, yaitu karena mereka masih goblok:


"Jika salah satu kaum musyrikin itu datang kepadamu, terimalah ia dengan baik, sampai ia mendengar kata-kata Allah (Al-Quran). Kemudian antarkan dia sampai ke tempat yang aman. Hal itu dilakukan karena mereka adalah golongan yang tidak mengetahui". (At-Taubah: 6).


Dalam hal kewajiaban toleransi ini, umat muslim di indonesia dari dulu hingga sekarang, masih komitmen dengan sangat baik. Hingga Para pemuda muslim indonesia di tiap-tiap hari-hari besar keagamaan, dari nyepi hingga natal, dsb, masih aktif ikut menjaga dan mengamankan. Misal dari peran pemuda NU (banser) atau pemuda Kepanduan Muhammadiyah yang ikut menjaga gereja saat natal, yang viral waktu itu.


Hal Itu merupakan puncak toleransi yang masih diharap-harapkan dan dicita-citakan oleh umat manusia di banyak bagian dunia.


Cukup memadahilah kalau diketahui bahwa diseluruh bagian dunia komunis, tidak ada tempat bagi orang yang tidak percaya kepada komunisme. Padahal komunisme itu hanyalah suatu ideologi kemasyarakatan saja dan bukan kepercayaan Agama. Tempat pembuangan di Seberia, berbagai macam penjara dan pembunuhan masal, itu semua disediakan bagi orang-orang yang tidak percaya kepada karl mark, lenin, stalin, mao zedong dan Aidit, padalah mereka ini adalah manusia ciptaan Tuhan yang maha Esa.


Akhirnya, Maaf, jika tulisanku kali ini bernada penuh kemarahan, sehingga terasa kurang sedap saat dibaca.


Sebab ini ku-tuliskan, karena banyak orang di medsos yang menyudutkan dan mencaci-maki agama Islam dan Umat Muslim, akibat ada kejadian bom di depan gereja kemarin.


Semua menuduh, Seakan-akan islam adalah agama Teroris. Padahal islam adalah revolusi yang menghancurkan fanatisme dan untuk menegakkan toleransi (akhlak).


Maka jika ada kejahatan bom bunuh diri yang merusak toleransi agama itu, pasti bukan Islam.


Karena bisa jadi, mereka para pelaku bom itu adalah oknum-oknum yang benci pada Islam dan ingin merusak islam serta menghancurkan Islam dari dalam.


Bukankan beberapa tahun belakangan ini, di media sosial, negeri ini, sering kita dapati banyak sekali bertebaran ujaran kebencian yang ditujuan pada islam dan menghina Al-Quran. Bukankan ini bisa jadi bahan pertimbangan dulu sebelum menghakimi dan memfitnah umat yang bertuhan yang maha esa. Mikirlah.

Penulis : Rifki Taufik 

Lamongan 25 April 2021

Posting Komentar

0 Komentar