Taqwa



Oleh: Ayik Fena Emilda

Kalian tahu tidak, apa sih Taqwa itu? Tentunya kita sebagai umat muslim sudah banyak yang paham tentang apa sih taqwa itu, definisi taqwa yang paling populer adalah “memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Jika kita menjadi seseorang yang bertaqwa kepada Allah, maka kita akan selalu mendapatkan petunjuk serta hidayah dari Allah SWT. Tetapi bagaimana jika kita adalah termasuk orang yang zalim? Tentunya kita tidak akan mendapatkan apapun selain kerugian. Jadi jangan sampai kita menjadi orang yang rugi.

‘Afif ‘ Abd al-Fattah Thabbarah dalam bukunya Ruh ad-Din al-Islmi mendefinisikan taqwa dengan : “seseorang yang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudhrat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.”

Thabbarah mengatakan bahwa makna asal dari taqwa adalah pemelihara diri. Pada dasarnya diri itu tidak perlu pemeliharaan karena kita tidak melanggar apapun jadi kita tidak perlu takut kecuali hanya kepada Allah lah kita boleh takut. Jangan sampai kita sebagai hamba ciptaan-Nya akan mengundang kemarah Allah SWT. Apapun yang kita lakukan tentunya ada ilmu tersendiri oleh karena itu rasa takut pun juga memerlukan ilmu terhadap yang ditakuti. Jika kita berilmu tentang Allah maka kita akan takut kepada-Nya, yang takut kepada Allah maka dia akan bertaqwa kepada-Nya.

Muttaqin adalah seseorang yang menjaga keimannya kepada Allah SWT dengan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya. Sedangkan, Allah tidak memerintahkan kecuali yang baik untuk manusia, dan tidak melarang kecuali yang memberi kerugian kepada mereka. Karena kita tahu bahwa Allah SWT sangat menyayangi hamba-Nya yang bertaqwa kepada-Nya. jika kita memiliki bekal taqwa, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang baik dari Allah SWT. Entah itu tentang sebuah jabatan, ekonomi atau pun yang lainnya. Tentunya tidak hanya di dunia saja kita juga akan mendapatkannya di akhirat kelak. Percayalah bahwa Allah selalu menepati janjinya.

Kalau kita boleh membuat sebuah perumpamaan, hidup bertaqwa di dunia ibarat berjalan di jembatan yang akan runtuh. Kenapa saya mengibaratkan seperti itu? Karena seseorang yang akan berjalan di jembatan tersebut akan sangat berhati-hati. Dia memperhatikan lubang-lubang supaya tidak terperosok ke dalamnya. Seseorang yang bertaqwa akan sangat berhati-hati sekali dalam menjaga segala perintah-Nya supaya tidak meninggalkannya dan hati-hati menjaga larangan-Nya supaya dia tidak melanggarnya, hingga dia dapat selamat hidup di dunia dan akhirat.

Hakikat dalam taqwa ialah dimana dalam ajaran islam dibagi menjadi Iman, Islam, dan Ihsan, maka taqwa ini adalah penyatuan antara ketiga dimensi tersebut. Bahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 177 sudah dijelaskan tetang hubungan dari ketiga dimensi tersebut yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Iman yang berarti beriman kepada Allah, Hari akhir, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab dan Nabi-Nabi, lalu Islam yang berarti Mendirikan sholat dan menunaikan zakat sedangkan, ihsan yang berarti orang-orang yang memerdekakan hamba sahaya, menepati janji dan sabar. Setelah kita sebutkan secara berganti-ganti beberapa bagian dari Iman, Islam, dan Ihsan itu, lalu Allah menutupnya dengan kalimat, "mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." Dari ayat tersebut kita dapat memahaminya bahwa pada dasarnya hakikat dari taqwa merupakan penyatuan atau dicirikan dengan Iman, Islam dan Ihsan sekaligus. Dengan bertaqwa kita sudah mendapatkan secara langsung dari ketiga-tiganya.

Perlu kita tahu bahwa bertaqwa kepada Allah SWT itu tidak memandang siapa saja, di mana saja, dan dalam situasi bagaimana pun kita tetap harus bertaqwa kepada-Nya. Ketika kita dapat bertaqwa secara maksimal maka akan semakin mulialah kita, karena kualitas ketaqwaan seseorang itu menentukan tingkat kemuliaannya di sisi Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang terdapat bunya yang artinya adalah, “...Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.”

Kalau kita menanam tumbuhan mangga maka kita akan mendapatkan buah mangga itu, oleh karena itu jika kita menanamkan ketaqwaan di dalam diri kita maka kita juga akan mendapatkan buah dari taqwa itu. Kalian pasti bertanya-tanya dong apa sih buah dari taqwa itu? Yang pertama, tentunya kalian akan mendapatkan sifat furqan, yaitu sikap tegas membedakan antara hak dan batil, benar dan salah, halal dan haram, serta terpuji dan tercela. Yang kedua, mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi. Yang ketiga, mendapatkan jalan keluar dari kesulitan. Yang keempat, mendapatkan rizeki tanpa diduga-duga. Yang ke lima, mendapatkan kemudahan dalam urusannya. Yang keenam, menerima panghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar.

Ketika kita bertaqwa kepada-Nya maka kita akan mendapatkan lima buah pertama yang akan dirasakannya di dunia dan satu buah terakhir yang akan dirasakan di akhirat. Semuanya itu merupakan dambaan setiap insan mukmin. Jadi mari kita bertaqwa kepada Allah SWT, agar kita bisa memetik buah yang telah kita tanam. Jangan tunggu hari tua untuk kita bisa dekat dengan Allah SWT, kalau bisa sekarang kenapa harus besok.

Sumber: Thabbarah, Afif ‘al-Fattah, Ruth ad-Din al-Islami, Beirut: Dar al-‘Ilmi li al-Malayin, 1978.

Editor: VanSy_

Posting Komentar

0 Komentar