Kebangkitan- Rifki Taufik


 

"Kebangkitan"






Kebangkitan Nasional adalah benih penting untuk menumbuhkan Indonesia Merdeka. Rakyat Indonesia diletakkan akan hak-hak dasarnya untuk bebas dari segala wujud penindasan, pembelengguan, eksploitasi, kekerasan, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penjajah (penguasa waktu itu).


Dan Wacana adalah bagaian dari kebebasan, hak azasi manusia yang merdeka di negara yang demokratis. Namun bila wacana dianggap menyerang, lalu di bungkam dengan garang, akun-akun orang-orang yang kritis di bajak, privasi orang tak di hargai, orang-orang kritis di ciduk tanpa diberikan hak-haknya agar bisa di tahan, dll, itu pertanda massa-rakyat harus Ke-bangkitkan Nasional kembali untuk menjaga hak-hak dasarnya untuk Kemerdekaan dari segala wujud penindasan, pembelengguan, eksploitasi, kekerasan, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penjajah.


Ada temanku berpendapat dalam sebuah obrolan ringan di warung kopi, dia berkata; daripada di jajah oleh saudara sendiri, lebih baik kalau aku jadi jonggos-nya belanda atau amerika atau arab, yang penting bukan jadi jonggosnya, israil dan cina. Meski hanya jadi pembantu, tapi di situ aku (atau pikiran) di anggap, bahkan dihormati oleh mereka.


Isi dari pembicaraan temanku itu adalah omongan orang yang pesimis, bahkan putus asa. Namun jika kita lihat dari sudut keprihatinannya, hingga dia rela menjadi jonggos bangsa asing, itu mungkin karena dia melihat kalau hari-hari ini suara-suara kritis selalu saja mendapat ancaman dan Teror serta peretasan ditenggah diskusi.


Dalam Koran tempo, Akun media sosial, WhatsApp serta telpon seluler milik pengiat anti-korupsi dan mantan pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi diretas kemarin. Teror dan peretasan terhadap aktivis berlangsung saat mereka mengikuti diskusi daring yang digelar Indonesia Corruption Watch (ICW), diskusi ini mengkritk keputusan ketua KPK firli yang membebas tugaskan 75 pegawai, termasuk Novel Baswedan, serta para penyidik dan penyelidik senior KPK. Para pengiat Anti-Korupsi dan eks pemimpin KPK juga menerima telpon bertubi-tubi dari nomer kontak tak dikenal selama diskusi berlangsung.


Maka dari situ terlihat jelas bahwa pembicaraan temanku itu  adalah suara kecemasan yang ingin segera bertindak dan tidak ingin terus saja membiarkan pembungkaman suara kritis masyarakat berlanjut. Karena hal-hal demikian itu adalah terang-terangan sikap yang anti-demokrasi. Padahal dahulu, kebangkitan Nasional adalah tonggak penting menuju indonesia merdeka.


Bertolak dari pemikiran itu, Massa-Rakyat harus membela hak-hak dasarnya. Dan ketika ada suatu negara yang seenak-udelnya sendiri mengagresi bangsa lain maka indonesia patut untuk konsisten menentangnya di garis paling depan sebagai bagian dari urusan kita, karena cita-cita kita adalah menghapuskan segala kesewenang-wenangan di muka bumi. Seraya membela bangsa yang dirampas hak-haknya itu karena di muka bumi yang melenial saat ini tidak boleh lagi ada praktik kolonial.


Hal itu pun berlaku, ketika ada satu penguasa yang sewenang-wenang membungkam suara kritis massa-rakyat maka massa-rakyat patut untuk membenci dan menentangnya sebagai dari urusan kebebasan atau kemerdekaannya sendiri.


Apa hak-nya suatu negara mengekspansi bangsa lain padahal Tuhan Yang Maha Esa menciptakan semua umat manusia sama untuk hidup Merdeka di seluruh muka bumi. Apa pula haknya suatu pemerintahan membungkam wacana (kritik) para pengiat anti-korupsi dan akademisi kritis padahal Tuhan Yang Maha Esa menciptakan semua umat manusia sama untuk menyampaikan pendapat (opini) di seluruh muka publik.


Seharusnya sekarang saatnya bagi para elite dan massa-rakyat kembali bangkit dan merefleksikan arti kemerdekaan (bebas) agar bisa membawa indonesia menjadi negara-bangsa merdeka, bersatu, adil, makmur, berdaulat dan maju sebagaimana yang dicita-citakan kemerdekaan. Massa-rakyat tidak boleh diam-diam saja membiarkan ada oknum yang membelokkan jalan dari cita-cita kebangsaan yang telah diletakkan oleh para pendiri republik ini tahun 1945 yang lalu.


Dan biar-bagaimanapun juga, Penguasa yang mendiamkan peretasan (pembungkaman) suara kritis bukan lagi penguasa tapi perampas hak-hak azasi, otoriter, melanggar privasi orang dan membunuh karakter, persis seperti penjajah. Itu wajib di labrak, di omeli, di terjang, di tantang, di serang. Semua Rakyat indonesia tidak boleh diam, harus melawan. Namun jika pelakunya adalah orang yang salah satu dari kita mencintainya, silakan tempuh jalan persuasi yang paling lembut, sebagaimana orang yang merayu kekasihnya agar bisa berubah. Bahkan bila perlu boleh ada negosiasi dalam rangka penetrasi jangka panjang dan paling dalam. Namun jangan marah jika salah satu dari yang lainnya melakukan agitasi kepada pelakunya. Toh intinya sama, dia hanya ingin orang yang kamu cintai itu berubah dan lebih demokratis.


Seharusnya seperti itulah kita memperingati hari Kebangkitan Nasional yang adalah untuk kembali meneguhkan komitmen indonesia atas nilai dan hakikat kemerdekaan yang merdeka, sekaligus meluruskan kiblat keindonesiaan agar tidak salah arah dalam mencapai tujuan. Tapi jika massa-rakyat mendiamkan semua yang diulas di atas tadi, maka khawatirnya hingga di tahun 2045 nanti indonesia keluyuran di jalan yang bukan membawanya sampai pada tujuan karena ternyata sudah lama salah jalan.

Penulis : Rifki Taufik 

Posting Komentar

0 Komentar