"Berjalanlah dimuka bumi", ke-8.


 "Berjalanlah dimuka bumi", ke-8.


Apakah kita pernah melakukan perjalanan seorang diri? Kalau belum, minimal lakukan perjalanan sekali saja dalam seumur hidup.


"Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: Kami tinggal (di bumi) sehari atau setenggah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui." (QS. Al-Mu'minun:112-114).


Karena hidup hanya sekali, dan waktunya sangat cepat & singkat. Sayang sekali jika waktu hidup kita ini habis tanpa melakukan hal yang membahagiakan, menambah wawasan & menjadikan diri kita berkarakter mulia. Ada seorang bijak yang berasal dari negeri arab mengatakan, "kehidupan ini terlalu pendek untuk kita perpendek dengan percekcokan" (ketidakbahagiaan atau kegelisahan). Bahkan Benyamin Disraeli mengatakan, "kehidupan ini terlalu pendek untuk disia-siakan". Agar hidup ini tidak begitu-begitu saja, dari senin ke-minggu lagi & lagi, lalu tak terasa usia sudah jadi tua. Maka salah satu cara untuk menghindari gabut adalah dengan menantang diri sendiri untuk melakukan perjalanan seorang diri. Hal itu jelas banyak manfaatnya, salah satunya adalah menambah ilmu secara langsung dengan melihat dari dekat, sebagaimana sudah kita bahas di posting seri "berjalanlah dimuka bumi, ke tujuh yang lalu.


Dan untuk tulisan kali ini kita coba menggali manfaatnya sebuah perjalanan untuk membentuk karakter kita menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri & tenang.


Sebab, ketika kita melakukan perjalanan sendirian, kita juga harus mengatur segalanya juga sendirian. Dari situlah kita bisa jadi belajar untuk percaya pada diri sendiri. Kita juga akan jadi mandiri, karena mau tidak mau, kita terpaksa untuk mengendalikan diri sendiri. Dengan begitu, kita secara otomatis akan berani mengambil keputusan & itu akan banyak menolong kita untuk melepaskan diri dari stres harian & kegelisahan tiap malam, Hingga kita menjadi pribadi yang tenang. Damai!


Thomas Alfa Edison mengatakan, "Tidak ada cara yang bisa dilakukan oleh manusia sebagai tempat pelarian untuk bersembunyi dari pikirannya."


Pernyataan Edison di atas memang benar berdasarkan pengalaman manusia. Karena manusia apakah sedang aktifitas kerja atau santai di rumah aja, maka sebenarnya dia berpikir. Jika perasaannya tidak bahagia, kemungkinan besar yang dipikirkannya adalah menyesali nasipnya. Maka cara terbaik untuk mengontrol pikiran adalah dengan melakukan perjalanan yang membahagiakan & bermanfaat untuk jiwa kita.


Karena orang yang terjebak pada rutinitas harian yang tidak seratus persen mereka inginkan, adalah orang-orang yang cenderung suka berkhayal aneh-aneh, tapi tidak punya kemandirian & kepercayaan diri untuk berani mengubah nasipnya, sehingga mereka gemar menyebarkan berita yang tidak jelas, angan-angan kosong & enggan terhadap kritikan, maunya selalu dapat pujian, padahal dirinya sendiri tahu, kalau pribadinya sama sekali tidak layak untuk dapat pujian yang tidak ada sedikit pun dalam dirinya. Bahkan mereka bisa merasa tersanjung meski orang yang kasih mereka pujian adalah pujian palsu. Pribadi seperti ini sebenarnya sebuah aib yang sangat besar, serta kesalahan hidup yang sangat fatal.


Filosof & penulis cerita, Epiktetos, memperingatkan, "Bahwa keharusan menghilangkan pemikiran yang salah dalam berpikir kita jauh lebih penting daripada menghilangkan bisul & tumor dari tubuh kita".


Nah, dengan melakukan perjalanan ketempat-tempat yang baru, kita pun akan menemukan orang baru. Hal itu akan membuat kita jadi punya banyak sudut pandang baru, dan menjadi pribadi yang lebih terbuka sehingga lebih mudah menerima perbedaan. Karenanya kita bisa jadi manusia yang bahagia & mulia.


Bagaimanapun juga, berada di tempat jauh, menghilang sejenak dari rutinitas dan dari orang-orang yang membebani, serta orang-orang yang tiap hari kita temui hingga menjadi belenggu yang membuat kita stres & tidak-bahagia. Itu pun bisa kita renungkan dengan jernih saat kita jauh dari itu semua. Selain itu, pengalaman baru bisa membuat beban hidup jadi terlihat jelas & tahu-tahu kita tahu cara untuk melepaskannya. Lalu hidup kita akan menjadi bahagia & tentram.


"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas dan diridhai-Nya." (QS. Al-Fajr:27-28).

Penulis  : Rifki Taufik

Lamongan 21 November 2020

Posting Komentar

0 Komentar