Berjalanlah dimuka bumi," ke-7.

 "Berjalanlah dimuka bumi," ke-7.






"Dan setiap umat memiliki kiblat yang ditentukan oleh Allah. Oleh itu, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Di mana pun kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148)


Kita semua paham dengan makna ayat di atas, Bahwa Orang-orang yang suka berbuat kejahatan, kedurhakaan, kebohongan, ingkar janji, & menghasut tidaklah sama dengan orang-orang yang suka berlomba-lomba berbuat kebajikan, berlomba-lomba dalam mencari & memperdalam kebijaksanaan, berlomba-lomba berbuat kebaikan & keimanan. Kita semua pun secara rasional harus mengakui bahwa kita semua pada suatu hari nanti setiap kelompok, setiap individu dimana pun kita berada, akan memperoleh balasannya. Hal ini Sudah kita bahas di seri ke-enam "berjalanlah dimuka bumi".


Namun, tidak mungkin kita dapat mengenali kebaikan dengan baik, jika tidak mengenal sejarah orang yang membawa kebaikan bagi kemanusiaan itu sendiri. Itulah kenapa, dalam diri Nabi saw ada suri tauladan yang baik. Karena itulah kita harus meniru kehidupan yang telah diteladankan oleh beliau.


Maka dari situ kita mengetahui, memang benar bahwa membaca kisah para tokoh sejarah terkemuka mendorong seseorang mengikutinya. Namun ada cara yang lebih efektif dari pada membaca, yakni melihat tempat peninggalan yang pernah dilalui para pelaku sejarah itu & terukir di situ epik kepahlawanan mereka.


Pada dasarnya, tempat-tempat itu merupakan saksi hidup yang mampu menampakkan seseorang di setiap zaman & tempat, untuk menjadikannya hidup bersama peristiwa-peristiwa silam dengan segala tandanya.


Jelas bahwa pengaruh edukatif dari monument-monument itu lebih besar daripada pengaruh membaca buku, melihat-mendengar dari teknologi digital, ceramah-ceramah & sebagainya. Karena di sini terdapat perasaan bukan pengenalan, afirmasi bukan konsepsi, pengalaman bukan gambaran, & hakikat luaran bukan benak pikiran.


Seorang penyair arab mengatakan,


  "Kehidupan jiwa adalah konsep & makna,

   Bukan yang kau makan & minum (seks)."


Note: perlu di perhatikan, bahwa tulisan ini, tidak bermaksud mengecilkan belajar dengan cara membaca dari buku-buku, atau mengikuti ceramah-ceremah dari kiyai, karena membaca buku dapat meningkatkan pengetahuan, mengembangkan daya ingat, pemahaman, mengembangkan akal, mencerahkan pikiran, & membersihkan hati nurani, dll, sedang mendengar ceramah-ceramah dapat menjauhkan kemungkinan seseorang untuk berhubungan dengan orang-orang goblok & suka gibah. Maka dengan keduanya kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, kebijaksanaan dari kalangan bijak bestari, & pemahaman ulama. 


Jadi, tulisan posting ini hanya membedakan tingkatannya belajar saja bukan meniadakan salah satunya. Belajar memang harus ada jenjangnya, jenjang SD itu harus dijalani dulu sebelum masuk SMP. Tidak bisa langsung loncat, tampa lewati SD, SMP, SMA langsung Universitas.


Penyair arab lain, mengatakan,


"Dalam bentangan angkasa yang aku membaca,

Banyak gambaran yang tidak aku baca dalam buku."


Dan biarbagaimanapun juga, tujuan dari belajar adalah menjadi manusia yang baik. Perangi yang baik adalah kebahagiaan tersendiri. Sedangkan prilaku yang buruk dari orang-orang yang malas belajar & melihat secara langsung merupakan petaka & bencana.


Bahkan dikisahkan dalam biografi imam Syafi'i, bahwa imam Syafi'i banyak berguru pada para syekh & ulama ahli fiqh, & ulama besar kaum muslimin pada masanya, yakni, imam malik. Ia tumbuh dibawah bimbingannya, memperdalam ilmu fiqh, juga mempelajari masalah-masalah yang telah difatwakan olehnya. Ketika itu usia syafi'i telah matang.


Selama tinggal bersama imam malik, seringkali Syafi'i melakukan perjalanan kenegeri-negeri islam untuk mencari ilmu, mempelajari adat-istiadat penduduknya, serta mendalami sejarah & melihat dari dekat kondisi sosial mereka. Ia juga sering pergi ke mekkah untuk menjenguk ibunya & meminta nasehat darinya. 


Syafi'i orang yang cerdas, tangap & mudah menghafal kitab-kitab yang ia baca. Bahkan ia hafal kitab karangan imam malik yang fenomenal itu. Namun Masa-masa belajar Syafi'i di tempat imam malik tidak menghambatnya untuk mengembara & mencari pengalaman pribadi dari pelosok negeri.


Maka tak heranlah kita, jika Imam Syafi'i, sangat menganjurkan untuk membaca, menuntut ilmu & mengembara. Beliau berkata: "Orang yang berakal & berbudaya takkan tenang berdiam di satu tempat. Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman & mengembaralah! Pergilah, niscaya kau akan menemukan ganti dari orang yang kau tinggalkan. Dan berusahalah, karena kenikmatan hidup ada dalam usaha.


Imam Syafi'i melanjutkan, Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut. Sekiranya air itu mengalir, niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak.


Lebih lanjut imam syafi'i berkata, Seekor singa, jika tidak meninggalkan hutan, ia tidak akan menjadi buas.

Anak panah, jika tidak meninggalkan busur, ia tidak akan mengenai sasaran.

Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya, niscaya orang arab & non-arab akan bosan melihatnya.

Emas itu seperti tanah jika dibiarkan di tempat aslinya.

Dahan yang jatuh ketanah hanya akan menjadi kayu bakar.

Jika seseorang mengembara maka pencariannya akan mulia.

Jika ia mengembara maka ia akan mulia seperti emas." __ Demikianlah nasehat imam syafi'i agar kita terus belajar, mulai dari rajin membaca, rajin menuntut ilmu, & mengembara, hingga kita menjadi orang mulia.


Karena, Orang-orang yang mulia adalah orang yang baik. Prilakunya baik, tidak sombong, tidak licik & jahat. Semua tindakan orang mulia selalu berdasarkan pertimbangan (ilmu) yang bisa dipertanggungjawabkan & bisa di ambil mangfaatnya oleh orang banyak. Demi kebaikan. Rasulullah bersabda, "tak satu pun jiwa akan mati hingga rezeki & ajalnya disempurnakan". Lalu kenapa harus ada rasa takut? Keluh kesah? Tak tenang & bahagia? Mengapa juga kita harus tamak, jahat, keji, jika semua telah ditakdirkan & ditentukan?


"Dan, adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." (QS. Al-Ahzab:38)

Penulis-Rifki Taufik 

Lamongan 15 November 2020

Posting Komentar

0 Komentar