Berjalanlah dimuka bumi, ke-4"-Rifki Taufik

 




"Berjalanlah dimuka bumi, ke-4"


Seringkali kita tidak sadar bahwa kitalah yang menciptakan keadaan, kebiasaan & juga keberuntungan kita sendiri melalui apa yang kita lakukan. Namun kita tak mau introspeksi diri sendiri & lebih suka menyalahkan oranglain jika keadaan sedang tak baik sama kita, atau kebiasaan kita menjadi boomerang bagi diri kita, atau saat keberuntungan sedang menjauh dari kita. Seharusnya kita tidak usah menyalahkan oranglain, cuaca, & bahkan menyalahkan tuhan.


Tapi beberapa dari kita tidak pernah benar-benar berubah. Beberapa dari kita hanya menjadi apa yang sudah ada pada dirinya sebelumnya. Beberapa dari kita saat mendapati dirinya di ajar oleh waktu, jiwanya tetap kosong melompong, sehingga pelajaran tak memberi pengaruh pada tindakannya. Pengajaran tak bisa menolongnya karena jiwa mereka kosong. Tindakannya tetap kurangajar. Kosong hampa jiwanya membuat Ajaran budi-pekerti yang dibagikan kepadanya, hanya tersimpan rapi dalam akal-budinya. Tapi tak berpengaruh pada karakternya. Tubuhnya memang berbentuk manusia, punya akal & hati, tapi kehidupan mereka dipenuhi oleh doktrin kepercayaan bahwa "waktu adalah uang", uang adalah segalanya, tanpa uang hidup akan susah & tidak bahagia, namun disitulah sebenarnya mereka hanya hidup untuk berlomba-lomba mencari kesenangan sesaat saja, (misalnya makan, minum & seks) Lalu apa bedanya mereka dengan binatang.


Kita tidak akan menemukan orang-orang seperti itu mau membagikan uangnya begitu saja, tanpa pamrih. Tetapi kita bisa melihat mereka yang justru membuang-buang hidup mereka sendiri. Mereka pelit & rakus saat menjaga hartanya, bahkan demi itu mereka tak segan-segan menjerumuskan dirinya dilembah nista seumur hidup. Namun begitu membuang-buang waktu, mereka sangat boros. Padahal disitulah mereka seharusnya pelit & rakus. & biar bagaimanapun juga, Harta, tahta & senjata selalu bisa dicari, tetapi waktu adalah harta yang tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, doi terus saja menyeret kita semua kepada yang namanya dikafani lalu ditanam dalam lubang. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah apakah kita akan rela menjalani detik-detik akhir hidup kita & menyesali diri sendiri karena kita telah banyak menghabiskan banyak waktu untuk orang-orang yang tidak seharusnya diberikan tempat dalam hidup kita? Karena harta, pangkat & derajat selalu bisa dicari, namun sesungguhnya "waktu" adalah "harta, tahta & senjata" yang tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita semua.


Ngomong-ngomong soal waktu, ada waktunya aku rajin nulis posting panjang di fb, ada waktunya aku rajin like foto-foto & komentar panjang-lebar di posting yang dibagi oleh teman-teman fb. & ada waktunya aku males ngapdet status meski pun tulisan pendek. Ada waktunya juga aku males like & komentar di posting teman-teman, bahkan ada waktunya aku tidak ingin buka fb sama sekali.


Hari-hari ini adalah waktu-waktuku agak tirakat sedelok dari fb. Kadang pengen banget menengok fb & melihat posting-posting teman-teman yang membagikan gambar-gambar cabul, gambar-gambar kopi, sambil nguntal gorengan atau gambar-gambar lucunya tak ketulungan.


& Alhamdhulillah, waktu-waktu bosen buka fb ini banyak membawa mangfaat buatku. Aku berhasil menyelesaikan beberapa novel, salah satunya novelnya Haruki Murakami yang tebalnya sebantal itu (tepatnya, 1300 halaman), yang berjudul 1Q84. Aku juga selesai membaca novelnya Milan Kundera, Immortality. Ini novel yang keren sekali. & sekarang masih ada sederet novel-novel yang dengan sabar menunggu tak baca hingga selesai meski dia sudah lama sekali tak beli.


Buatku, membaca novel menyuguhkan kenikmatan tersendiri. Membaca novel mengajariku untuk menyelami pengetahuan manusia yang beraneka-ragam. Ini bukan pengalaman yang biasa, pengalaman dari perjalanan yang unik, pengalaman perjalanan yang memiliki struktur. Ini membuktikan bahwa keuletan & ketangguhan sejati bukan dari otot & uang yang kita miliki, tetapi dari pikiran (mind) & jiwa kita sendiri. Inilah kekuatan pikiran & isi kejiwaan kita yang bisa mengubah jalannya keadaan, kebiasaan & keberuntungan yang jadi penghalang menjadi jalan peluang. Ibarat pikiran & jiwa adalah gelas, maka isi gelas kita dengan pendidikan, agama, sosial, dsb. Maka akan menghasilkan perubahan karakter, ketenangan jiwa, & kepedulian pada sesama juga pada alam.

Lamongan ,7 November 2020

Posting Komentar

0 Komentar