Pendidikan dan Independensi Perempuan Masa Kini

ilustrasi (sumber: mahardhika.org)

Dalam era globalisasi pada awal abad ke-21 ini, mengenai tingkat pendidikan, independensi, peran dan masalah dalam keluarga maupun masyarakat merupakan hal yang sangat menarik dan relevan dibicarakan apa lagi mengenai perempuan. Perempuan mempunyai peran yang sangat penting dalam keluarga dan masyarakat, akan tetapi banyak orang atau masyarakat tidak memaksimalkan fungsi dan peran yang ada, sehingga sering kali masih terselip dan membekas dalam pemikiran masyarakat terkait dengan budaya patriarki. Tanpa kita sadari sebenarnya perempuan memiliki peran dan fungsi yang tinggi dalam masyarakat dan keluarga akan tetapo karena ada beberapa faktor yang melatarbelakangi maindset masyarakat terkait itu semua, salah satunya adalah faktor rendahnya tingkat pendidikan pada perempuan.

Seiring berkembangnya teknologi, semakin bertambahnya media sosial yang kita gunakan pasti kita tau bahwa banyak sekali infulenser, pengusaha, adalah seorang perempuan. Oleh karena itu maka ada dua aspek yang menjadi patokan atau kunci utama untuk memberdayakan perempuan yaitu pendidikan dan ekonomi. Sering sekali pemikiran masyarakat terutama pada masyarakat pedesaan yang mana perempuan tidak boleh bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja dan pada akhirnya perempuan sendiri yang tertindas terkait itu, banyak kasus mengenai perempuan yang dianiyaya, diselingkuhi, diceraikan dan di lecehkan yang mengakibatkan mereka ketika berpisah dengan suami atau keluarga mereka menjadi seseorang yang tidak berguna karena tidak memiliki atau cukup dengan ekonomi yang mereka punya karena mereka tidak mempunyai pekerjaan. Kebijakan di bidang pendidikan dan ekonomi bagi perempuan ini sangat perlu di perhatikan jika keduanya itu kuat maka peran mereka dalam keluarga maupun masyarakat juga akan kuat. apabila perempuan memiliki pengetahuan yang luas dan tingkat pendidikan yang tinggi, maka peran mereka secara mikro dalam keluarga akan tinggi, bahkan peran sosial perempuan dalam masyarakat juga tinggi.

Dalam keluarga adanya perbedaan pendapat antar anggota keluarga dapat menimbulkan kesenjangan antara fakta dan harapan dalam mewujudkan keluarga yang aman dan bahagia, akibatnya dapat mengakibatkan konflik dalam keluarga itu sendiri sehingga dapat mengancam ketahanan keluarga. Dalam konflik yang akan terjadi selain mengakibatkan kerapuhan dalam ketahanan keluarga serta juga akan menimbulkan gejolak sosial yang tidak dinginkan. Untuk mencegah atau mengurangi konflik-konflik tersebut maka peranan pendidikan bagi perempuan sangat membantu untuk mengatasi masalah dan konflik-konflik tersebut. Sekalipun pendidikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia, namun kenyataannya masih terdapat kesenjangan pendidikan.

Kesenjangan perempuan dan laki-laki masih Nampak ada. Data BPS pada tahun 2015 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 20 - 44 tahun, laki-laki buta huruf sebesar 4 per 100 orang, sedangkan perempuan sebesar 9 per 100 orang. Melihat keadaan ini maka perlu adanya upaya untuk menumbuhkan kometmen dan dukungan yang kuat dari pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam mewujudkan pendidikan bagi anak lakilaki dan perempuan. Upaya lain adalah meningkatkan keikutsertaan perempuan Indonesia dalam berbagai aktivitas ekonomi sehingga menjadi perempuan yang mengerti hak-haknya dan berani memperjuangkan hak-haknya tersebut, mandiri, tidak selalu bergantung pada suami atau orang lain, dan memiliki penghasilan sendiri. Tulisan ini bertujuan untuk membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan Indonesia sebagai bekal hidup yang lebih bahagia, berkualitas, dan mandiri serta lebih memberdayakan perempuan baik dalam institusi keluarga maupun dalam masyarakat dan pembangunan nasional.

Pendidikan adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan tanpa membeda-bedakan. Maka dari itu tidak ada alasan untuk mendeskriminasikan ataupun mengesampingkan pendidikan kaum perempuan. Perempuan bisa belajar tentang apa saja, dan dalam bidang yang mana saja sesuai keinginannya. Memang secara umum banyak yang menyadari bahwa pendidikan sangatlah penting, namun ada sebagian orang masih memiliki pandangan yang timpang mengenai pendidikan khususnya untuk kaum perempuan.

Beberapa ketimpangan yang ada kebanyakan diantaranya dikarenakan oleh beberapa hal antara lain masyarakat masih berpandangan male oriented atau lebih mengutamakan anak laki-laki dari pada anak perempuannya. Banyak dari masyarakat yang masih berpikir dan beranggapan kuat bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena nantinya tugas perempuan hanya “masak, macak, lan manak” (istilah Bahasa Jawa) atau artinya ketika nanti fungsi dan peran perempuan dalam keluarga adalah hanya masak, melahirkan, dan berdandan. Persepsi seperti ini seharusnya dihapuskan karena memang itu adalah tugas perempuan dalam keluarga akan tetapi banyak sekali hal yang tidak dipikirkan oleh masyarakat bahwa untuk melakukan itu semua seorang perempuan juga sangat butuh ilmu pengetahuan.

Banyak hal yang dibutuhkan perempuan ketika mereka menjadi seorang istri seperti cara mendidik anak, bagaimana cara mengelola uang, memasak yang baik sesuai dengan kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh untuk perkembangan anak, dll. Budaya bahwa perempuan hanya bertugas sebatas dibelakang layar, sehingga tidak perlu menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dan faktor kemiskinan atau keterbatasan penghasilan orang tua kadang-kadang juga dapat memarginalkan pendidikan perempuan. Harus diakui faktor biaya pendidikan saat ini yang dirasa masih mahal merupakan kendala utama bagi anak anak kurang mampu untuk terus menempuh pendidikan. Selain faktor-faktor di atas, adanya trens bahwa perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi kemudian tidak mengembangkan karirnya dan lebih memilih kembali ke ruang domistik atau memilih menjadi ibu rumah tangga, banyak menimbulkan persepsi bahwa memang tugas perempuan itu mengurus rumah tangga dan ini tidak dianggap sebagai pilihan yang disadari secara penuh.

Pada zaman yang modern ini boleh saja perempuan memilih menjadi pengurus rumah tangga (ibu rumah tangga) secara total tetapi hendaknya menjadi ibu rumah tangga yang berwawasan luas, handal dan berdaya. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan pendidikan, pelatihan, terus belajar untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan pendidikan, pelatihan, terus belajar untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka pemerintah, dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayan mengembangkan pendidikan ketrampilan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebagai satuan atau muatan program pada SLTP, untuk mengisi ketentuan pada pasal 4 dan pasal 13 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.2 tahun 1989, dan pasal 3 beserta penjelasan PP No. 28 tahun 1990.13 Program ketrampilan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ini diselenggarakan untuk menanggapi masalah-masalah nasional yang perlu mendapat perhatian dari dunia pendidikan. Masalah-masalah tersebut antara lain: tingginya angka putus sekolah, pengangguran, kemiskinan, rendahnya kualitas angkatan kerja, kurang mulusnya peran pendidikan sekolah dalam link and match antara peserta didik dan perannya dalam masyarakat. Program ketrampilan pada Sekolah Lanjtan Tingkat Pertama ini sebagai sub-sistem dari sistem pendidikan dasar, yang bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan serta peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.

Program pendidikan ketrampilan pasa SLTP ini salah satu program untuk meningkatkan sumber daya manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya, terutama untuk mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi. Ketrampilan yang diajarkan berorientasi kepada kebutuhan lingkungan seperti Bangunan, Pengerjaan Logam, Listrik dan Elektronika, Otomotif, Pertanian dan Pengelolaan Hasil Pertanian, Kerajinan, Kerumahtanggaan dan Kepariwisatan, serta Keterampilan Niaga. Jenis- jenis ketrampilan ini masih terbuka untuk terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah setempat. Peluang untuk meningkatkan kualitas keterampilan dasar melalui pendikan dasar hanya dapat dicapai dengan menggali secara mendalam arti dan hakikat basic skills tersebut dan berupaya mengembangkannya dengan pendekatan dan medium yang tepat.

Banyak faktor yang menyebabkan para perempuan Indonesia tidak memiliki keterampilan, antara lain adalah: sedikitnya kesempatan memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan setempat, faktor kemiskinan, tidak adanya semangat dan kemauan untuk memperoleh kesempatan dan fasilitas berlatih keterampilan dengan baik, meskipun otaknya mungkin cemerlang. Tingkat pendidikan dan pengetahuan serta ketrampilan yang rendah bagi perempuan menyebabkan mereka menjadi sumberdaya manusia yang kurang mampu bersaing di dunia kerja. Agar memiliki kemampuan bersaing, salah satunya adalah menjadi manusia yang berkualitas tinggi. Sumber daya manusia yang berkualitas tinggi ini dapat dihasilkan salah satunya melalui jalur pendidikan dan pelatihan dengan sistem pemagangan.

Untuk meningkatkan terpenuhinya hak perempuan akan pendidikan maka perlu meningkatkan akses dan perluasan kesempatan belajar bagi anak perempuan di usia sekolah terutama di daerah yang belum terjamah teknologi yaitu di daerah pedesaan, yang tepencil dan tingkat ekonomi yang rendah. Membuka sekolah kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan untuk mengembangkan SDM maupun SDA di daerah tersebut. Dan juga membuat kegiatan maupun sekolah inspirasi untuk kaum perempuan agar tercapainya dan memperbaiki mutu pendidikan dan meningkatkan kesempatan perempuan berkarya dan menjamin bahwa tidak ada batasan bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dan diharapkan juga semakin runtuh dan hilang oleh budaya patriarki.

Pendidikan adalah sebagai jalan bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan, bukan hanya menjadi sekedar penerima pasif program-program pemberdayaa, akan tetapi dalam pendidikan kaum perempuan juga akan aktif dan menjadi salah satu faktor kemandrian atau independensi bagi dirinya agar mampu bekerja di tempat yang sesuai akan kemampuan atau passion yang mereka punya. Independensi ekonomi ini membuat perempuan menjadi tidak direndahkan dan dapat bersaing dan seimbang dengan kaum laki-laki. Dan dapat bersaing di masyarakat, contohnya antara lain dalam pengaturan keuangan keluarga untuk gizi makanan, biaya kesehatan, pendidikan anak dan lain-lain. Perempuan yang memiliki sumber penghasilan di tanganya, cenderung membelanjakan penghasilannya itu untuk kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup anak-anaknya sebagai generasi muda penerus bangsa. Dengan demikian pendidikan sangat penting bagi perempuan karena kontribusinya terhadap upaya menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas unggul sangat besar.

Pendidikan adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mendiskriminasikan pendidikan perempuan indonesia. Sehubungan dengan itu maka budaya-budaya dan segala hal yang menghambat kesempatan kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya harus diluruskan dan diperhatikan oleh yang berdaya seperti pemerintah, orangtua terhadap anak, orang yang kaya terhadap orang miskin karena pendidikan adalah salah satu jalan menjadikan perempuan sebagai agen perubahan dan bukan sekedar penerima program pemberdayaan secara pasif. Pendidikan merupakan faktor utama yang memungkinkan permpuan memiliki independensi atau kemandirian yang kuat terutama kemandirian dibidang ekonomi keluarga. Dengan independensi ekonomi inilah perempuan akan dapat lebih berdaya baik dalam institusi keluarga, masyarakat maupun pembangunan. Dengan demikian perempuan diharapkan akan memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap keamanan, kedamaian, ketenteraman, kebahagiaan, kesejahteraan dalam keluarga dan sosial, serta dapat menyiapkan generasi muda penerus bangsa yang unggul dan mampu bersaing di era globalisasi ini.

*) ditulis oleh Rahma Andriani

__________________________
Daftar Bacaan:
[1] Evi Rahmawati dan Putri Rosalia. Kemandirian Para Perempuan Tiga Kota. Harian Kompas: 30 Oktober 2007.
[2] Shanti L. 1991. Poesposoetjipto. Perempuan Manajer Peluang dan Tantangan. Dalam kumpulan artikel ”Perempuan Indonesia”. Pustaka Sinar Harapan, 
[3] Slamet P.H. 1994.  Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan dalam Era Kompetisi Global. Makalah pada seminar FPTK

Posting Komentar

0 Komentar