Revolusi Digital dan Jihad Literasi ala Generasi Milenial

ilustrasi (sumber: goodnewsfromindonesia.id)

Akhir-akhir ini, kemajuan teknologi dan informasi kian pesat merasuki sendi-sendi kehidupan. Khususnya kaum terpelajar yang menjadi aset masa depan dalam membangun kemajuan bangsa dan negara. Sebagai aset berharga, kaum terdidik harus menyadari bahwa kita memang bukan lagi berjihad melawan penjajah kolonial Belanda. Melainkan kita melawan penjajahan baru. Yaitu penjajahan melawan diri kita sendiri dari gempuran hiburan: game online, gaya hidup hedon, malu berbahasa Indonesia, dan jihad dalam dunia literasi.

Sebagaimana yang termaktub dalam kitab Fathul Mu’in oleh Syekh Zainuddin perihal jihad. Menurutnya, jihad merupakan fardhu kifayah bagi setiap orang (al-jihadu huwa fardl kifayatu kullu ‘am). Fardhu kifayah itu bermakna bahwa beban hukum seseorang akan terlepas apabila ada orang lain yang sudah melaksanakan. Jihad dalam kitab tersebut bermakna sangat luas. Hal ini berarti tetap relevan jika jihad itu diterapkan dalam hal literasi. Ikhtiar Jihad Literasi memang tidak ada habisnya didiskusikan. Karena ia merupakan aktivitas manusia yang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Lalu, seberapa pentingkah literasi ini bagi kita? Jawabannya tentu sangat penting.

Literasi yang mungkin dipahami banyak orang adalah membaca dan menulis. Namun, makna literasi tidak hanya sampai di situ. Ada hal lain yang juga tidak kalah pentingnya dari sekadar membaca dan menulis. Hal yang sama juga disebutkan di dalam Alquran bahwa literasi tidak hanya sekadar proses membaca atau menulis. Melainkan pula mencakup proses memahami dan menganalisis keadaan yang terjadi. Sehingga informasi dan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya dicerna sampai pada tahap permukaan saja. Akan tetapi juga dianalisis hingga tahap yang paling mendasar.

Wacana diatas sudah menjadi penguat dan bukti jika literasi itu sangat penting dalam berbagai sendi kehidupan. Literasi bukan hanya membaca dan menulis sebagaimana pemahaman sebagian besar orang, namun literasi juga bermakna proses memahami dan menganalisis keadaan yang terjadi. Namun sangat disayangkan sekali jika kita membaca hasil riset John Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain baru-baru ini tentang tingkat literasi masyarakat dunia. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah. Hanya satu tingkat mengungguli Bostwana, sebuah negara kecil di Afrika Selatan dan tujuh peringkat di bawah Malaysia, negeri jiran yang sering menjadi rival dalam segala bidang. Riset ini belum lama diterbitkan, tapi gaung pemberitaannya di Indonesia tidak seheboh seperti ketika kesebelasan merah putih kalah dipecundangi Malaysia dalam laga AFF beberapa tahun silam. Memang jika dibandingkan banyak hal, dunia literasi menjadi isu yang tidak populer bagi masyarakat Indonesia. Seperti tidak memiliki nilai berita yang besar sehingga jurnalis dari media mainstream ogah mengangkatnya sebagai laporan. 

Dunia literasi hanya menjadi isu penting bagi segelintir kelompok aktivis. Mereka kadang sampai bergaung: “bekerja di bidang literasi adalah berjuang di jalan yang sunyi.”

Memimpikan Indonesia sebagai negeri yang terliterasi barangkali masih jauh panggang dari api. Budaya kita masih belum mendukung terbentuknya masyarakat yang demikian. Riset John  Miller bukan satu-satunya penelitian yang menunjukkan buruknya tingkat literasi masyarakat Indonesia. Sebelumnya, hasil riset Progress in International Reading Literacy Study (PIRLC) yang dilakukan oleh The International Association for the Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 2011 menempatkan Indonesia di posisi 41 dari 45 negara dalam hal kebiasaan membaca pelajar sekolah dasar di dunia. 

Budaya lisan yang berkembang di Indonesia seringkali menjadi kambing hitam atas rendahnya mutu tradisi baca-tulis di negeri ini. Ciri utama budaya lisan adalah dominannya penggunaan lisan sebagai sarana transfer ilmu dan pewarisan norma-norma yang berlaku. Masyarakat yang berkembang dalam tradisi ini lantas lebih akrab dengan kegiatan berkumpul dan berbincang-bincang dalam iklim komunalitasnya yang kuat. Sebaliknya, tradisi tulis adalah tradisi yang dilingkupi kegiatan baca tulis yang tinggi. Sebab sebuah catatan adalah pendokumentasian pemikiran, budaya tulis menampilkan keberaturan hidup. Tidak salah jika masa-masa penemuan aksara menjadi penanda berakhirnya zaman pra-sejarah yang kemudian menjadi dasar penghakiman atas kebudayaan lisan sebagai tradisi yang berbau-bau primitif. Membaca buku memang tidak membuat  kita jadi selalu benar, tetapi setidaknya buku dapat membantu kita untuk mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Membaca buku tidak menjamin kita menjadi sukses, tetapi setidaknya kita tahu bagaimana jalan untuk sukses.

Menggaungkan istilah  jihad dalam hal ini bertujuan untuk dua hal, yaitu menekankan bahwa kegiatan ini merupakan tindakan besar sekaligus menghadirkan pemaknaan jihad yang sudah terlanjur menjadi terma negatif. Tujuannya sama seperti pemaknaan Jihad Konstitusi yang sedang dijalankan PP Muhammadiyah. Dari segi bahasa, kata jihad berasal dari bahasa Arab, bentuk isim masdar dari fi’il Jahada yang berarti mencurahkan kemampuan. Ibnu Mandzur dalam Lisan al-‘Arab menulis, jihad adalah memerangi musuh, mencurahkan sebaga kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan, atau segala sesuatu yang dimampui. Kata Jihad seringkali disandingkan dengan kata sabilillah yang berarti di jalan Allah. Muhammad Rasyid Ridha menulis dalam tafsirnya bahwa sabilillah adalah jalan yang mengantaran kepada keridhaan Allah yang dengannya agama dipelihara dan keadaan umat membaik.

Jadi, kata jihad literasi dalam konteks ini dimaknai sebagai salah satu cara menegakkan kalam Allah di muka bumi. Tradisi membaca dan menulis yang digerakkan dalam lingkup Ikatan Pelajar Muhammadiyah sejatinya merupakan upaya mengenal dan menyebarkan kebesaran ilmu Allah. Dengan demikian, semakin besar tradisi keilmuan ini melekat pada diri seorang pelajar, semakin besar pula kadar keimanannya. Inilah semangat yang membedakan gerakan ini dengan gerakan-gerakan literasi pada umumnya. Tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan untuk mendekatkan dan menegakkan kalimat Allah, bukan berarti membatasi bacaan para pelajar sebatas bacaan ilmu-ilmu agama saja. Bukankah ilmu Allah adalah segala yang ada di langit dan bumi ini, yang dengannya jika pohon menjadi pena dan lautan dijadikan tintanya tidak akan habis-habisnya? Ilmu alam pun jika dipelajari dengan baik akan ditemukan nilai-nilai ketuhanan di dalamnya.

Jihad Literasi ini pada akhirnya juga bisa menjadi garda terdepan sebagai penentu kesuksesan Gerakan Keilmuan atau disebutnya pelajar madani yang saat ini menjadi branding dari IPM Jawa Timur. Bagi IPM, gerakan ilmu diposisikan sebagai praktis Gerakan Pelajar Berkemajuan dengan tiga pilarnya, yaitu pencerdasan, pemberdayaan, dan pembebasan pelajar dari problematikanya. Gerakan ilmu dihadirkan untuk menjawab semua problem-problem kemanusiaan pelajar, berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, serta persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural.

Transformasi gerakan jihad literasi sebagai bagian gerakan keilmuan dengan demikian menghendaki perubahan dalam masyarakat. Perubahan yang hendak dituju adalah perubahan yang didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi. Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia. Liberasi adalah pembebasan bangsa dari kekejaman kemiskinan dan kebodohan. Sedangkan Transendensi adalah menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan. Tiga kerangka ini digunakan karena gerakan yang akan kita jalankan berbasis pada keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

*) ditulis oleh Hosiana Alda Rizky
_______________________________
Daftar Bacaan:
[1] Kurniawati Juliana, Siti Baroroh. 2016. Jurnal komunikator. Bengkulu: Universitas Muhammadiyah Bengkulu
[2] Justito Adiprasetio, Nunik Maharani. 1 februari 2017. Jurnal pengabdian kepada masyarakat. Universitas Padjajaran
[3] John Miller. 2019. Hasil penelitian tingkat literasi masyarakat dunia. Central Connecticut State University

Posting Komentar

1 Komentar