Opini Paradigma Etis and kritis

 Opini Paradigma Etis and kritis 






Sebuah Dialektis antara Universalisme, Relativisme, dan Individualisme. Isme" ini yang nantinya kalo dipadukan pada kesadaran etis dan kritis dalam process  and progress of cadre. Suatu langkah yang menjadi problematis saat agent itu melepas diri dalam cengkraman word viev yang progresif. Apapun langkah yang diambil adalah proyeksi sustainable untuk pergerakan" hari ini. Leader in konteks itu bukan untuk meligitimasi atau merubah akan tetapi pilihan-pilihan untuk bergerak. Itu suatu cara yang dialektis dan cara-cara tersebut akan mengakibatkan sub" yang kultural etis and kritis. Saat legitimasi ada, adalah suatu power tanpa harus hilang tapi development in power di perlukan. Kemudian saat merubah ada untuk power in dekontruksi yang inovatif tanpa adanya problematis benar dan salah. 


Kesadaran etis and kritis ini menjadi hal yang fundamental dalam paradigma kesadaran profetik. Seperti suatu ruang yang tersusun dari berbagai hitungan konstruktif . Ruang itu ada karena berbagai hal yang connektivisme sehingga terciptalah realitas manusia yang terbentuk organisasi, komunitas, Suku, Ras dan atau kelompok manusia yang bergerak secara value dan paradigma yang membuatnya untuk bergerak. Sehingga jadilah budaya yang disitu membuat dia menjadi we in konteks real yang mempunyai daya dan langkah-langkah proyeksi masa depan. Terdapat suatu hasil ataupun tidak hasil menjadi evaluasi yang tanpa keputusan asaan. Tetapi seperti ruang lingkaran terus menyambung untuk menjaga titik yang di situ ada ke hampaan karena tak ada yang melatarbelakangi hitungan konstruktif dalam titik tersebut. Padahal suatu ruang seperti di atas tadi itu sustainable untuk di pertahankan  agar hitungan konstruktif itu mengukuhkan ruang tersebut. 


Dari pendekatan keyakinan, realitas dan konstruksi terbentuknya ruang ini menjadi dialektis baru untuk menentukan proses and progress of cadre. Hari ini di abad baru 21 tahun 2023 ini menjadi sebuah nomenklatur untuk mencapai suatu realitas sub kultur yang connektiv. Karena proses pilihan manusia hari ini menjadi terpecah tanpa dia memiliki kesadaran sosial yang disitu hanya kepentingan pribadi. Kesadaran sosial dimaksudkan hari ini itu connektivisme dalam menjalani seni kehidupan. Ada tanah, ada tumbuhan ada energi yang disitu secara natural membentuk connektivisme. Kalaupun manusia ingin suatu kepentingan pribadi berarti secara naif dia mengalami kecacatan sosial dan mengingkari adanya seni kehidupan. 


Masuk dalam paradigma profetik yang disini menggunakan pendekatan etis dan kritis. Secara sadar kita tahu bahwa ini dimulai dari hadirnya para nabi dan rasul dalam Islam di tutup oleh Muhammad SAW yang memulai revolusi kemanusiaan di mekkah dan madinah . Terdapat semangat spiritual di antar 2 daerah atau kota tersebut mekkah adanya sebuah kejumudan atau kita menyebutnya kesadaran mistik dan naif dalam menjalani seni kehidupan saat menuju madinah atau yastrib pada waktu itu terjadi sebuah perselisihan yang problematis yang menjadikan kesadaran untuk persatuan dalam bingkai kedamaian. Hal ini terbukti saat Muhammadi SAW menjadi sosok manusia yang menjadi harapan baru untuk menentukan langkah proyektif masa depan bahkan menjadi spirit untuk menetapkan keyakinan ini hampir seperempat wilayah dunia dalam catatan sejarah. 


4 Paragraf ini menjadi sebuah narasi kecil yang digunakan untuk para pembaca sekalian memahami dan menjadikan kita untuk membaca pola kesadaran hari ini. Tulisan ini bukan berarti berhenti sampai disini tetapi akan berlanjut kemudian hari untuk kembali manyapa pembaca yang budiman.

Penulis : Moch .Huda.

Posting Komentar

0 Komentar