Hari Agraria"


"Hari Agraria"







Setiap tanggal 24 September diperingati sebagai hari Agraria, Hari Tani Nasional. Dan Negara kita, indonesia tercinta ini telah dikenal sebagai negara Agraris yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai mata pencaharian serta sebagai penopang pembangunan.


Bahkan sektor pertaniaan selama ini dan hingga sekarang masih sebagai sektor penyumbang PDB yang cukup besar. Namun sektor ini perannya semakin menurun karena sektor yang non-pertanian kini relatif lebih cepat pertumbuhannya daripada sektor pertanian. Kalau tidak percaya, coba amati kecepatan perkembangan sektor teknologi sekarang, di mana semua orang, baik tua maupun muda, semua sudah gila teknologi. Bahkan bayi yang baru lahir "ceprot" sudah nyusu teknologi, bukan susu sapi atau menghisap puting susu ibunya sendiri.


Disamping mewabah-nya sektor teknologi yang menguasai kita hari-hari ini tidak di imbangi dengan tingkat kesejahteraan petani. Dan kesejahteraan petani juga menjadi masalah yang miris karena keuntungan dari hasil bertani kerap kali tidak menutupi modal yang digunakan dari bibit hingga panen. Sebut saja, soal hama tikus, wereng, dll, belum lagi soal irigasi (pengairan) dan harga-harga pupuk. Namun ironisnya, pemerintahan pusat sampai pemerintahan desa seakan-akan tidak peduli dengan segala permasalahan ini.


Belum persoalan tanah yang di miliki oleh para pejabat dan para korporasi yang tak sebanding dengan luas tanah milik masyarakat. Coba cari tahu, berapa luas total tanah milik kepala desa kita masing-masing? Dan setiap tahun ada penambahan luas berapa, serta sebelum dia menjabat luas tanahnya berapa. Lalu bandingkan dengan milik kita semua.


Dan kenapa ada satu orang pengusaha (korporasi) yang memiliki tanah seluas 5,2 juta hektar, dan banyak dari tanahnya itu yang diterlantarkan, tak terawat, tak berguna. Dan di saat yang sama ada banyak massa-rakyat yang di gusur sehingga tidak punya tanah dan juga tak punya lahan garapan, dan mereka terpaksa tinggal di kolong jembatan, tak terawat, tak berguna.


Di mana-mana ada konflik agraria, selalu ada permasalahan tentang bagaimana susahnya mengurus sertifikat tanah yang berliku-liku, hingga bertahun-tahun belum tentu selesai, dan soal-soal korupsi atau suap buat pemerintahan desa sampai pusat untuk pembuatan sertifikat tanah. Tapi bukan sampai di situ saja, Kita pun sering kali baca tulisan: Di larang masuk, Tanah milik negara. Padahal dalam undang-undang argarai kita Negara tidak boleh memiliki tanah dan hanya menguasai tanah untuk di-distribusikan bagi kepentingan rakyatnya.


Sepertinya, belum apa-apa sudah terlalu banyak persoalan agraria yang ku tulis di posting ini, padahal belum semua permasalahan terucapkan. Tapi ada baiknya ku cukupkan, karena aku khawatir yang baca tidak merasa bosan jika tulisan ini kepanjangan. Paling tidak, Minimal posting ini sudah cukup jika digunakan sebagai bahan pemantik diskusi, di warung kopi, sambil main wifi.


Akhirnya, Peringatan Hari Agraria (Tani) ini penting menjadi monument yang ingatkan kita, bahwa pertanian yang kerap kali digembar-gemborkan untuk menopang perekonomian bangsa hendaknya yang gembar-gembor itu tidak melupakan kesejahtraan petani itu sendiri. Dan bagi petani, hendaknya hari Agraria ini jadi moment untuk bersatu merebut kembali hak-haknya. Selamat hari Agraria!


Rifki Taufik 

Posting Komentar

0 Komentar