Dusta

 "Dusta"

Oleh : Rifki Taufik


Dusta  Adalah Abdullah bin Amir ra, telah Meriwayatkan bahwa Nabi Saw, pernah datang kerumahnya saat dia masih kecil. Lalu dia ingin keluar untuk bermain. Lalu ibunya memanggilnya, "Hai kemarilah ibu mau kasih kamu", kemudian, Rasulullah Saw bertanya, "Apakah sebenarnya kamu tidak ingin memberinya?"


Ibu-nya Abdullah bin Amir menjawab, "Aku akan kasih kurma," lalu Nabi Saw bersabda, "Adapun jika kamu tidak memberinya apa-apa maka di catat atasmu perbuatan dusta". (HR. Abu Dawud).


Jika terhadap anak kecil, dan itu adalah anaknya sendiri, kebohongan tetaplah dinilai dusta, maka bagaimana jika janji dengan niat bohong itu diberikan kepada seseorang, kepada semua anggota keluarga, kepada masyarakat, bahkan kepada segenap rakyat?


Tapi, yang jadi persoalan kita adalah bagaimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang itu pendusta? Dan bolehkah kita melebeli seseorang sebagai pendusta? Jawabannya tentu saja, boleh. Kenapa bisa boleh melebeli seseorang sebagai pendusta, hal itu akan kita bahas secukupnya, di akhir-akhir tulisan sederhana dalam posting ini nanti. Dan akan lebih baik, jika kita mengurai ciri-ciri sebuah kebohongan agar kita mengetahui karakteristik seseorang itu memang pendusta.


Oh jelas, kita tidak akan pernah tahu siapa saja para pendusta itu, karena di jidat mereka tak ada lebel (karakter) yang bertuliskan, "tukang tipu permanent!", namun kita bisa menilai mereka sebagai pendusta itu dari ucapan-ucapan kecil dan perilaku keseharian mereka.


Misalnya, semakin meyakinkannya seseorang dalam berbicara (dalam memberi janji atau bercerita), apalagi di imbuhi dengan kalimat, " percaya saja sama aku", atau janji; "iya nanti akan aku usahakan, atau perkataan, "Apa untungnya aku bohongin kamu", dan ungkapan yang semacamnya, maka sudah dapat dipastikan 75% dia sedang melakukan sebuah aksi yang disebut: dusta!


Karena kalimat; "Percayalah saja sama aku", itu sudah mengandung sebuah arti, bahwa, "kamu harus menuruti apa yang ingin aku dapatkan dari kamu".


Sedangkan janji, "Iya, nanti akan aku usahakan", artinya, bisa jadi dia tidak bermaksud dengan sungguh-sungguh akan mengusahakannya, tapi ketika dia di tagih akan janjinya, dia akan lepaskan tanggung-jawab dengan berkata; "Kan aku sudah berusaha" dsb.


Dan perkataan, "Apa untungnya aku bohong sama kamu", ini adalah perkataan yang jelas-jelas bermakna, kalau dia (pendusta itu) sedang sembunyikan maksud dan sembunyikan sebagaian hal yang tak ingin dia sampaikan seutuhnya. Contohnya, jika ada laki-laki bilang pada pasangannya, sini sayang tak pijitin. Itu artinya, 10 menit kedepan, aku akan main seks sama kamu, Bukan karena dia perhatian sama kamu.


Dari dulu, Laki-laki tidak pernah bisa memahami perempuan, dan Perempuan tak pernah bisa memahami laki-laki. Dan itulah satu-satunya hal yang tak pernah dapat dipahami oleh laki-laki dan perempuan.


So, Waspadalah kepada orang yang berpenampilan sempurna. Apalagi kepada pasangan sendiri. Karena jika kita di tipu oleh selesmen yang jualan kalung anti asam-urat, maka kita besok tak akan lagi mau ketemu seles itu dan membuang kalungnya, agar kita bisa secepatnya melupakan kebiadaban selesmen itu. Tapi jika kita di tipu oleh pasangan kita sendiri, yang adalah orang yang kita sayangi, maka sakitnya itu langsung ke jiwa kita, karena kepercayaan kita telah dihancurkan olehnya.


Ah, memang di dunia ini, tidak akan pernah ada pasangan dan sahabat sempurna, karena kita semua adalah manusia yang akan memiliki kesalahan dan pada saatnya kesalahan kita itu terungkap juga. Dan tentu saja kita bisa memaafkan kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja, dengan syarat, yang membuat kesalahan itu bisa mengubah kesalahan-kesalahannya, dan dia benar-benar berubah selamanya.


Memang benar jika yang kita bicarakan di atas itu semacam "Negative thinking", dan Negative thinking seringkali di dakwa sebagai penghambat orang untuk maju. Padahal sudah bukan rahasia kalau Negative Thinking juga pemberian dari Tuhan yang sangat penting untuk membuat kita bisa lebih realistis dan juga preventif, agar kita tidak mudah didustai, sehingga kita jadi kecewa dan merana dalam derita.


Jadi, Negative Thinking itu boleh, asal tidak berlebihan, hingga membabi buta dalam memandang semua orang sebagai pendusta (Negative). Lalu apa ukuran Negative Thinking yang masih dalam tahap wajar dan memiliki mangfaat seperti: (1). "Berpikir realistis". (2). "Mengatur batasan, terutama saat berinteraksi sama orang lain dan bahkan berinteraksi dengan kelurga kita". (3). "Jeli atau hati-hati, mengambil keputusan dengan lebih matang dan tidak terburu-buru". (4). "Mempersiapkan diri menghadapi yang buruk dari Orang lain dan pasangan sendiri". (5). "Motivasi membuat perubahan total atau bertahap".


Kembali ke soal dusta di atas, sebenarnya tidak ada manusia di muka bumi ini yang suka berdusta, apalagi jika dia adalah seorang muslim yang taat, entah itu sebagai pemimpin rumah tangga, penguasa negara, politisi, birokrat, karyawan sampai buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin desa dan kota sekalipun, tentu saja, sebagai seorang "muslim" dia tidak akan pernah mau, apalagi sampai dengan suka-rela untuk melakukan kebohongan hingga menjadi pendusta tulen. Karena, cepat atau lambat atau tepat, kebohongannya itu pasti akan menjerumuskan pelakunya pada kesengsaraan besar, baik di dunia, lebih-lebih di akhirat. Disinilah hukum tanam-tuai atau hukum sebab-akibat berlaku. Sebab, kebohongannya telah mengakibatkan oranglain menderita.


Dan Biar-Bagaimanapun juga, berdusta tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang dalam hatinya masih ada Iman, kecuali oleh orang-orang kafir. Ya, benar, Mereka diberi lebel (berkarakter) "kafir" oleh Allah SWT dalam FirmanNya berikut ini:


"Sesungguhnya yang mengada-adakan Kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta". (QS. An-Nahl:105).

Kita semua tahu bahwa karakter kita itu dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil kita sendiri. Maka biasakanlah untuk selalu jujur, agar kejujuran itu jadi karakteristik kita.

"Sesunguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang "Membiasakan" jujur ia akan di catat di sisi Allah sebagai orang yang Jujur. Dan, Sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada Neraka, dan sesungguhnya seseorang yang "Biasa" berdusta ia akan di catat di sisi Allah sebagai Pendusta." (HR. Imam Bukhari dan Muslim ).

Posting Komentar

0 Komentar