Simpati

 "Simpati"



Memang benar, jika orang yang paling menyakiti hati kita, adalah orang yang paling kita cintai. Karena itu langsung menyentuh hati kita.


Namun dari situ, kita mendapatkan pengalaman dan menyadari bahwa kita harus memaafkan, dan mau menerima kenyataan, bahwa oranglain bisa gagal dipercaya, sama seperti kita juga.


Berangkat dari sana, konsep simpati mulai mendapat tempat yang kuat dalam hatiku.


Ya, memang dari sana, Aku mulai percaya pada sebuah ide tentang "Simpatheia." misalnya, jika orang lain menderita, maka kita pun menderita. Ketika dunia menderita, maka kita menderita. Kepercayaanku ini terasa seperti Hindu. I know


Namun, kata Marcus Aurelius, "Apa yang buruk untuk sarang lebah yang buruk?"


Dan konsekuensi pada kepercayaan ini, kita harus menerima pemahaman yang terasa seperti ajaran buddha, "bahwa kita semua adalah bagian dari organisme yang sama yang lebih besar."


Kita semua dari yang Satu. Kita semua Dari zat yang satu. Lalu Kita semua bersatu dan berbagi zat yang sama. Kita semua menghirup udara yang sama.


Kita pun berbagi impian dan harapan yang sama. Kita bahkan keturunan dari rantai evolusi panjang yang sama. Dan ini benar-benar ketidakpedulian ras apapun kamu, cuek pada darimana kamu berasal, atau tak perduli pada apa yang kamu percayai.

Penulis : Rifki Taufik 

Posting Komentar

0 Komentar