Tentang Takwa

 "Tentang Takwa"





Inti dari pencapaian puasa adalah takwa. Tanda orang yang telah mencapai ketakwaan, salah satunya, adalah bersikap sabar. Sedangkan sikap sabar itu bisa menahan sesuatu yang tidak diinginkan atau menahan sesuatu yang sangat diinginkan.


Di sini, yang dianggap sudah berhasil adalah saat ingin tidak mempunyai keinginan lagi. Bahkan sudah tidak lagi mempunyai keinginan sama sekali.


Contoh dari keinginan, adalah, semua orang pada umumnya ingin mencapai kebahagiaan untuk berbahagia. Namun di mana tempatnya kebahagiaan itu? Bagaimana muka-nya kebahagiaan itu, dan seperti apa rasanya kebahagiaan itu. Legitkah? Maniskah? Kesetkah? Tidak ada standar baku.


Karena tak ada buku putih untuk tuntutan, setiap starategi mengembangkan formulasi bahagia sehingga bangkitlah rimba raya bahagia yang banyak bertentangan bahkan berkebalikan yang membuat bahagia makin dikejar makin hilang.


Menurut katanya, kebahagiaan itu kaya-raya, mapan, tersohor, unggul, nomer satu, juara satu, bergelar puncak dihormati seperti bendera merah-putih, pendek kata, punya dunia dan segala-isinya. Tapi sudah banyak terbukti, bahkan tak kurang-kurang buktinya orang-orang semacam itu hidup kesepian dan merana, ada banyak juga yang bunuhdiri karena kurang bahagia.


Mochtar lubis, penulis angkatan 45, pernah bilang: "Berbahagialah orang-orang yang tidak tahu."  Oke, ada seorang lansia ke istoran untuk vaksinasi ke-2 pukul 15:30, ternyata sudah tutup. Karena puasa, jadwal dipercepat.


Ada pemuda yang rajin berdoa agar bisa menikah dengan idola-nya. Lima tahun pertama menikah, dia rajin berdoa lagi, agar diberikan keturunan. Lima tahun berikutnya, dia rajin lagi berdoa, supaya kaya raya. Dan setelah kaya-raya, dia rajin berdoa lagi, agar jadi pemimpin paling berkuasa nomer satu di perusahaan atau dinegaranya. Lima tahun setelah menjadi pimpinan, dia lagi-lagi berdoa dengan khusuk sekali, agar teman hidupnya lekas mati, sehingga dia kembali bebas sendiri kawin dengan idola-nya yang baru lagi, bahkan dalam doa itu, dia memberi alasan-alasan rasional pada Tuhan, bahwa teman hidupnya yang lama ini, harus mati ya tuhan... karena sudah jelek, peyot, sudah bunder kayak tong di tambah cerewet pula, sialnya sakit-sakitan dan servis-nya tidak seenak dulu lagi.


Intinya, manusia tidak akan terpuaskan dengan keinginan-keinginnya. Satu keinginan terpenuhi akan lahir keinginan baru lagi. Terus menerus begitu.


Sehingga manusia tidak pernah mencapai kehabagiaan yang sejati.


Dan cara untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan puasa.


Dari sinilah titik-tolak awal untuk belajar menahan keinginan.


Dan Memang dalam puasa hanya keinginan-keinginan untuk menahan diri dari yang halal saja. Seperti makan, minum dan seks (bagi yang berpasangan) dan melawan nafsu komentar buruk serta pencitraan dsb. Dan apabila berhasil menahan itu semua hingga buka nanti, maka itulah tanda kemajuan diri kita, yakni memperoleh takwa. Bukan memperoleh bahagia.

Penulis : Rifki Taufik 

Lamongan .

Posting Komentar

0 Komentar