Etika Lingkungan dan Keselamatan Kehidupan Kita

ilustrasi (sumber: jadilahanakpintar.blogspot.com)


Isu-isu tentang lingkungan dalam beberapa tahun terakhir semakin merebak. Berbagai fenomena alam menunjukkan tengah ada sesuatu yang tidak beres di bumi yang ditinggali manusia ini.

Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab terjadi di berbagai belahan bumi. Mulai dari eksploitasi alam yang sakarepe dewe, hingga kerusakan alam akibat polusi-polusi udara, tanah, maupun air yang juga disebabkan oleh manusia.

Maka, manusia didesak untuk berpikir dan bertindak secara arif terhadap alam atau lingkungan tempatnya berpijak dan mencari rezeki. Kesadaran mengenai perlunya kelestarian lingkungan harus dijadikan bagian dari kehidupan keimanan kita sebagai makhluk religius atau umat beragama.

Pertanyaannya, mengapa alam kita kian rusak dan bencana pun tak ada hentinya melanda?

Alam atau lingkungan kita yang kian rusak, itu tak lain karena pemikiran teologi kita selama ini yang cenderung membenarkan hubungan “eksploitatif” antara manusia dan alam.

Manusia seperti memiliki kebenaran mutlak untuk menguasai alam demi kepentingan hidupnya. Itu seolah alam semesta ini hanya diciptakan untuk kepentingan manusia semata, bukan untuk dirinya (alam) sendiri.

Dengan demikian, kita lupa bahwa sesungguhnya kita memiliki spiritualitas yang mumpuni, pemikiran keagamaan, dan teologi yang andal soal tujuan penciptaan alam semesta, yang bukan semata-mata untuk manusia, tetapi juga untuk dirinya (alam) sendiri. Itu yang tidak boleh dicaplok begitu saja oleh manusia untuk kepentingannya, tanpa memperhatikan kelestarian alam.

Dalam hal ini, pemikiran teologi kita yang menempatkan manusia sebagai pusat (antroposentris) harus dicairkan. Itu dengan mengembangkan pemikiran teologi yang menempatkan seluruh ciptaan sebagai saudara yang saling membantu dan melengkapi.

Teologi Lingkungan
Dengan demikian tercuat pertanyaan, dari perspektif mana sebuah teologi dibangun dan dikembangkan, yaitu tentang teologi lingkungan? Pertanyaan ini harus dielaborasi lebih dulu dengan menegaskan bahwa kerusakan lingkungan yang terus terjadi berdampak langsung dengan berbagai bencana alam yang silih berganti ‘berkunjung’.

Hal itu telah mendorong kita, untuk melihat bahwa teologi lingkungan sangat perlu kembali dihadirkan dalam rangka menggugah semangat umat manusia di bumi dalam mencapai soteriologi rumah tangga dunia.

Landasan epistemologis dari teologi lingkungan adalah kesadaran agama-agama akan kondisi krisis lingkungan yang sudah sangat parah sehingga bencana dan berbagai fenomena alam pun terus silih berganti menghampiri.

Namun, yang menjadi catatan pula adalah bahwa hal itu tidak semata menjadi sebuah problem sekuler, melainkan juga problem religius atau problem teologis, disebabkan kesalahan dalam pemikiran teologis yang mendorong manusia untuk mendominasi, menguasai, dan mengeksploitasi alam tanpa batas dan semena-mena.

Hal ini dapat dinilai dari cara pandang umat barat di abad pertengahan, tentang posisi manusia dengan alam. Pandangan itu menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), semua ciptaan lain harus tunduk kepadanya. Jadi, teknologi pun dikembangkan sebagai sarana eksploitasi alam, dengan alasan demi kemaslahatan, kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketimpangan cara pandang itu perlahan dirombak. Penekanan yang berlebihan tentang kemahakuasaan Tuhan dalam monoteisme yang menjadi semacam landasan legitimasi terhadap eksploitasi alam diubah dengan menempatkan Tuhan ‘hanya’ sebagai penjaga, perawat, pemelihara, dan pelindung lingkungan atau bisa kita sebut dengan sifat eko-universalisme Tuhan.

Mandat budaya untuk menguasai alam tidak lagi dipahami dalam koridor manusia sebagai penakluk dan penguasa alam, tetapi sebagai titipan kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memeliharanya.

Pengembangan teologi lingkungan sebagai ikhtiar kepedulian terhadap alam yang menempatkan manusia sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta sangatlah perlu digemakan dan dibumikan. Penggemaan dan pembumian teologi lingkungan ini bertujuan mendekonstruksikan dan menguji kembali sikap iman kita terhadap lingkungan dan atau alam semesta. Itu demi tercapainya keselamatan seluruh ciptaan Tuhan.

Dalam islam banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang pengelolaan alam, pun demikian dengan ayat-ayat yang memberikan ancaman ataupun peringatan tentang kerusakan-kerusakan alam oleh ulah manusia.

Allah SWT telah menginformasikan bahwa bencana alam yang membinasakan umat manusia telah seringkali terjadi dalam sejarah dunia. Gambaran relevansi antara perbuatan ‘perusakan’ alam linear dengan rusaknya aqidah dan keimanan seseorang, sehingga dia tak mampu menerjemahkan dan mengejawantahkan sabda-sabda langit.

Etika Pemihakan terhadap Lingkungan
Agama mengajarkan kepada manusia tentang perlu interaksi dengan Tuhan sebagai pencipta dan penguasa alam raya. Agama berperan sebagai rambu-rambu moral dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Karena sifatnya yang holistik, agama menjadi landasan teologis bagi aktivis dan masyarakat untuk merawat alam. Agama memberikan inspirasi yang tidak ada habisnya dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Sedangkan umat beragama adalah sumber daya manusia yang menggerakkan upaya pelestarian bumi.

Kini, tidak ada jalan lain bagi segenap umat beragama selain segera dan terus-menerus membangun pemikiran teologis yang mampu memberikan sumbangan dan berperan serta dalam tanggung jawab secara ethic di bidang penyelamatan lingkungan. Pengendalian diri dalam pengeksploitasian alam atau lingkungan dinilai dari lahir dan berkembangnya pemikiran serta semangat itu.

Dalam hal ini, manusia zaman ini perlu mengkaji dan mempelajari lagi pemikiran teologi yang berkembang selama ini, yang terpengaruh pemikiran teologi Barat, terutama di abad pertengahan.

Itu dengan kembali menempatkan manusia dalam posisi yang memiliki tanggung jawab moral dan etis dalam relasinya dengan kosmos. Dalam dimensi etis, manusia harus berpihak pada alam atau lingkungan dengan selalu bersikap bijak dalam relasi dengan alam atau lingkungan, tempat ia berada, berpijak, dan berinteraksi.

Hal yang dibutuhkan kini adalah pembangunan etika baru yang memosisikan manusia dalam berelasi dengan alam. Itu karena objek hidup, seperti alam dan dunia, tidak akan ada dan berubah kecuali di dalam persepsi si subjek, yaitu manusia. Itu dalam penempatan diri secara tepat dan benar di tengah alam.

Jika manusia salah memosisikan dirinya dan menempatkan alam sebagai objek yang harus dikuasai, kemudian alam pun dieksploitasi, alam akan berbicara atas dasar tindakan manusia itu. Jika alam dirusak terus-menerus, tentu bencana alam datang sebagai tindakan protes alam terhadap manusia.

Artinya, perlu etika keberpihakan pada alam atau lingkungan sebagai bentuk implementasi pemikiran teologi di atas. Itu adalah perangkat etika yang mampu dengan cerdas memihak alam dan atau lingkungan.

Itu etika yang memberi kepedulian, perlindungan, sekaligus perawatan terhadap alam dan lingkungan, etika yang mampu mencegah arogansi dan dominasi manusia yang tidak bertanggung jawab atau tidak bertindak etis terhadap alam dan lingkungan.

Dengan demikian, alam dapat terbebaskan dari kerusakan yang lebih parah. Itulah yang disebut sebagai etika pemihakan. Kita tidak bisa lagi hanya terpaku dan membisu, atau hanya sebagai penonton yang pasif di tengah eksistensi alam yang tidak henti-hentinya digerogoti dan dirusak sehingga bencana alam terus menerjang silih berganti.

*) ditulis oleh Ubay NA

Posting Komentar

0 Komentar