Memajukan Gerakan, Membangun Bangsa, Mencerahkan Kemanusiaan






 
Judul Buku: Memajukan Gerakan, Membangun Bangsa, Mencerahkan Kemanusiaan

Penulis: Alumni DAP Medan
Ukuran Kertas: 14,85 x 21 cm
Tebal Buku: x + 235 hlm
ISBN: 978-623-6222-05-8
Tahun Terbit: Mei 2021
Penerbit: CV. Progresif
______________________________________

Segala puji hanya bagi Allah Swt, penguasa alam semesta yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya serta nikmat yang begitu banyak sehingga kami, sebagai penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada kekasih Allah, suri tauladan setiap zaman, Nabi Muhammad Saw yang atas reformasinyalah kita dapat merasakan nikmat ilmu pengetahuan hingga hari ini.

Kader paripurna merupakan kader tingkatan utama bagi organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, sebab ia telah dianggap telah menyelesaikan perkaderan utama sebelumnya, yaitu perkaderan dasar dan perkaderan madya. Kader paripurna juga dianggap telaf kaffah secara ideologis, kemampuan personal dan sosial. Maka sudah menjadi kewajiban kader paripurna untuk bertanggungjawab secara moril-sosial pada penciptaan kreativitas-kreativitas gerakan yang menekankan pada orientasi trikompetensi, trilogi, maupun identitas IMM. Kader paripurna juga telah siap menjadi kader persyarikatan, kader ummat, dan kader bangsa.

Secara garis besar, buku ini menghimpun ide pemikiran dari para alumnus Darul Arqom Paripurna yang diselenggarakan di Medan, Desember 2019 lalu. Dimulai dari bagaimana refleksi realitas kebangsaan dan tantangan global hari ini yang berdampak pada semua aspek bidang kehidupan di masyarakat, menuntut kebaharuan pergerkan yang melingkuti multiaspek tersebut.

Setelahnya ide dalam buku ini mencoba menguraikan bagaimana esensi Islam dalam pandangan Muhammadiyah ini yang oleh kader IMM jadikan pondasi sebagai langkah gerakan. Mendeskripsikan bagaimana cara melihat Muhammadiyah sebagai sebuah peluang, kekuatan, dan nilai kebaikan. Yang salah satunya disebutkan dengan sikap washatiyah. Tentunya dalam melatih sikap washatiyah ini diperlukan sebuah kesadaran kolektif antar anggota IMM untuk bersama-sama membangun komitmen kepemimpinan personal maupun organisasi untuk menciptakan strategi-strategi gerakan kekinian.

Kemudian, sejalan dengan gaung isu kesetaraan, kumpulan ide yang terdapat dalam buku ini juga telah mengejawantahkan Al-Qur’an ke dalam upaya membangun kesetaraan bagi perempuan dalam lingkup internal organisasi maupun eksternal –selain organisasi IMM; yaitu mengenai isu-isu terhadap perempuan. Islam merupakan agama rahmatan lillalamin, tidak membedakan jenis kelamin, ras, dan budaya. Inilah yang harus diingat oleh kader IMM dalam merumuskan strategi–aksinya.

Terminologi kolaborasi pemikiran ini diharapkan menjadi pengingat bagi kita, selaku kader IMM agar terus membuka diri terhadap semua informasi –pengetahuan, juga pergaulan– eksternal organisasi yang cenderung berbeda ideologi hingga mahzab. Ini juga salah satu tantangan bagi kader IMM, bagaimana membentuk pergaulan dengan cara bergaulnya IMM yang tidak funtamentalism –ekstrem. Mengutamakan prinsip penerimaan diri dan lingkungan sosial terhadap perkembangan zaman dengan dasar pengetahuan.

Kami, selaku para penulis menyadari dalam proses permbuatannya, buku ini masih terdapat banyak kesalahan, meski demikian, kami berharap dengan hadirnya kolaborasi pemikiran ini mampu memperbanyak kolaborasi pemikiran-pemikiran lainnya dengan keberanian.


Posting Komentar

0 Komentar