Laut Bercerita

doc by: Dadang W

Penulis : Leila S. Chudori
Judul : Laut Bercerita
Terbitan : KPG, Cetakan kedua, 2017.
Tebal : 379 halaman.
ISBN :  978-602-424-694-5
Resenslator : Dadang W
Musik Dalam Laut

Buku garapan Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerira” terbitan KPG mengisahkan pergerakan mahasiswa melawan pemerintah Orde Baru. Para aktivis banyak yang dihilangkan dan tentu meninggalkan kesedihan mendalam. Berbagai pelipur, kelurga Laut memlih lagu-lagu The Beatles, Joan Boaz, berperan sebagai penghibur. 

Banyak peristiwa memilukan. Peristiwa berhasil menarik kalangan aktivis mahasiswa yang masih kental dengan keidealisan. Tidak dapat hanya bersikap berdiam. Perlawanan disusun dalam rumah kontrakan Wiraseno. Rumah kosong yang dijelmakan menjadi indah dan nyaman dipakai untuk melakukan diskusi dan merancang startegi. Dalam kesibukan rapat atau sedang menganggur, Lagu The Beatles membentuk kekuatan mental kepada mereka. 

Kehadiran musik, dapat memberikan kekuatan psikis. Buku garapan Djohan berjudul (Psikologi Musik,2005) mendifinisikan seni dapat membantu menemukan “siapa kita” dan “apa potensi kita”. Musik dapat menggerakkan pendengar, ia berhasil menjadi juru selamat untuk memperkenalkan diri dan menunjukkan kemapuan yang dimiliki. Ia dapat mengeluarkan diri dari keterpurukan perasan dan pikiran.

Lagu perlawanan selalu dinyanyikan saat melakukan demonstrasi kejalan. Sepenggal lirik lagu, Darah Juang ; Mereka dirampas haknya/ tergusur dan lapar/ bunda, relakan darah juang kami/ membebaskan rakyat/ padamu kami berjanji// . Lagu yang sopan. Sebelum berjuang dan melawan, ia tidak melupakan kasih seorang bunda untuk meminta do’a dan keselamatan dalam memperjuangkan rakyat tertindas, miskin dan lapar.

Musik perlawanan sudah tidak akrab dengan banyak kalangan aktivis. Mereka lebih akrab dengan musik kekinian. Mahasiswa akrab dengan musik perlawanan, akan terlihat sebagai mahasiswa yang anarkis dan radikal. Mahasiswa yang berambut gondrong, berpakaian robek-robek dan kumal. Seakan tidak memiliki tempat dan berkumpul bersama yang lain.

Musik Kehilangan
Sudah berbulan-bulan tidak mendapat kabar kepastian keberadaan anak. Para orang tua berkumpul dan membuat organisasi KONTRAS. Pendirian organisasi sedikit mengancam aparatur atas tindakan yang pernah dilakukan kepada para aktivis. Setiap malam kamis, diiringi musik dan teriakan didepan gedung DPRD menyuarakan penuntutan untuk segera dikembalikan dan dipenjarakan orang-orang yang bersalah. 

Aktivis perempuan di Argentina dan Chile memiliki kemiripan dengan di Indonesia. Perjuangan yang mereka inginkan adalah mengembalikan dan menuntut memberikan hukuman bagi orang bertindak salah. Ketertarikan ia buktikan datang ke Indonesia dan bergabung dalam aksi kamisan. Hal ini yang sedikit menyadarkan kesehatan secara psikis ibuk Asmara jati. 

Dari berpuluh aktivis yang
 dapat kembali hanya 8 (delapan) orang. Sisa masih dalam pencarian. Berbagai kerja sama dilakukan dengan para pakar dan beberapa kawan yag berhasil kembali. Agar dapat tertemukan jasad yang dicari. sisa aktivis yang tidak dapat kembali salah satunya Laut Biru. Seorang yang tidak banyak bicara, cerdas, dan sangat idelais. Banyak yang merasa kehilangan. 

Kegemaran Laut, dirumah selalu membantu Ibu dalam menyiapkan masakan. Mencicipi, dan mengomentari. Ayah yang bertugas menyelesaiakan persiapan benda-benda diatas meja. Kerutinan dalam keluarga, hal ini menjadikan tradisi yang tidak dapat dielakan lagi. Setelah mendengar peristiwa itupun, seorang masih tetap menyediakan. Seakan belom menyakini bahwa itu adalah kebenaran.

Laut, Meninggalkan kenangan, kesedihan dalam keluarga. Lirik lagu Blackbird dari The Beatles : Blackbird singging in the dead of nitgh // take these broken wings and learn to flay//..(hlm. 33).  “All your life/ you were only waiting for the moment to arise//(hal. 34).  Lirik mengganti kehadiran Laut. Musik tidak pernah absen menemani saat mereka sedang makan tengkleng bersama dihari minggu. Sebuah ritual dalam keluarga Asmara dan Laut Biru. Bermaksud pula untuk menggembirakan kesedihan.
 
 Lagu itu berulang kali dibunyikan, saat sedang berada dikamar membersihkan debu-debu menempel pada buku, kasur, dan menyapu kamar. Sungguh, lagu seakan terdapat Biru dan menjemakan wijud dia saat mendengar. Berharap seketika Laut hadir menyentuh dan duduk disampingnya.
Joan baez, “here’s to you, Nicola and bart/ rest forever here in our heart/the last and final moment is yours/ that agonys your triumph” (hal. 290). Musik yang girang seakan mengahapuskan kesedihan yang selama ini dirasakan. Alex dan Anjani saat sedang berkunjung, secara bersamaan akan berjoget bersama seperti berkunjung ke club malam dengan lampu-lampu kermelip. Beban-beban copot sedikit-demi sekidikt dengan sendirinya. 

Asmara jati, adik yang kini sudah dewasa dan dapat berfikir cerdas. Ia bertanggung jawab penuh dalam pencarian kakaknya, ia pula yang meredakan kesakitan jiwa Anjani dan kedua orang tua.  Lagu yang selalu diingatnya adalah “in the wind we heart their laugter/ in the rain we see their tears/ hear their heartbeat/ we hear their hearth// (hal.341). Lagu itu menyimpan kenangan dalam pada diri Asmara, keterpisahan begitu membekas olehnya. Terasa meraka seperti angin, air,udara. Kehadiran memebrikan kehiduan yang penuh dan komplit. 

Asmara Jati yang dulu tidak begitu menyukai soal perjuangan. Ia menganggap bahwa kegiatan itu berbahaya dan tidak menghasilkan. Kejadian telah membalikkan pikiran Asmara, setiap hari hampir kesibukannya dihabiskan mengurusi kasus penghilangan para aktivis. Buku-buku yang terdapat dalam rak kamar Laut, sering dibacanya, untuk menambah wawasannya.

Posting Komentar

0 Komentar