Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini

ilustrasi (sumber: silabus.web.id)

Pendidikan mempunyai definisi yang luas dan sempit. Definisi pendidikan yang luas yaitu segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan.Dalam arti luas, pada dasarnya pendidikan bagi siapa saja ,kapan saaja dana dimana saja ,karena menjadi dewasa, cerdas, dan matang adalah hak asasi manusia pada umumnya. Sedangkan pendidikan yang sempit yaitu seluruh kegiatan belajar yang direncanakan, dengan materi terorganisir, dilaksanakan secara terjadwal dalam sistem pengawasan, dan diberikan evaluasi berdasarkan pada tujuan yang telah ditentukan. Kegiatan belajar seperti itu dilaksanakan didalam lembaga pendidikan sekolah.

Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sedangkan Menurut Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya menumbuhkan budi pekerti (karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak. Ketiganya tidak boleh dipisahkan, agar anak dapat tumbuh dengan sempurna Dalam hal ini, pendidikan berarti menumbuhkembangkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab sehingga pendidikan terhadap diri manusia adalah laksana makanan yang berfungsi memberi kekuatan, kesehatan, dan pertumbuhan, untuk mempersiapkan generasi yang menjalankan kehidupan guna memebuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha yang sadar, teratur dan sitematis didalam memberikan bimbingan atau bantuan kepada orang lain (anak) yang sedang berproses menuju kedewasaaan.  Melihat definisi di atas pendidikan tidak dapat terlepas dari penanaman karakter. Karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan. Oleh karena itu, perlu dipahami pula apa itu sesungguhnya karakter.

Istilah karakter yang dalam bahasa Inggris character, berasal dari istilah Yunani, character dari kata charassein yang berarti membuat tajam atau membuat dalam. Karakter juga dapat berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Karakter adalah suatu sikap, perilaku, atau ciri khas yang dimiliki seseorang dalam bentuk tindakan, dan tingkah laku.

Menurut Herman kertajaya mengatakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki seseorang dan ciri khas tersebut adalah asli mengakar pada kepribadian seseorang tersebut, dan merupakan mesin pendorong bagaimana sesorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Sedangkan Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengartian tentang karakter memiliki dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus, tentulah seseorang orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentu orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitanya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.

Dari pengertian karakter di atas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah kualitas atau moral, akhlak, atau budi pekerti yang ada dalam diri individu, yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakanya dengan individu satu dengan individu lain. Seseorang dapat dikatakan berkarakter, jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat, serta digunakan sebagai moral dalam hidupnya.

Setelah mengetahui tentang pengertian dari ”pendidikan” dan “karakter”, maka peneliti akan menguraikan tentang pengertian pendidikan karakter, pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengerjakan nilai-nilai kepada para sisiwanya.

Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu: tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Sedangkan menurut  Samani dan Hariyanto (2013:45) dalam bukunya menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. 

Dari penjelasan berbagai pendapat para ahli tentang pengertian pendidikan karakter, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah moral atau budi pekerti yang digunakan untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter yang baik kepada seseorang, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan tindakan yang baik setelah memiliki maka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari bak di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.

Anak Usia Dini (AUD) sangat perlu untuk memperhatikan dan menerapkan pendidikan karakter demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik. Dengan pendidikan karakter diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan sempurna. Pada usia 0–6 tahun, otak anak sedang berkembang dengan sangat pesat. Mereka mampu menyerap dengan cepat segala sesuatu yang dilihat atau didengarnya. Tahun-tahun pertama kehidupan, anak menjadi sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan sosial, yang berjalan dengan cepat sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak ke depannya. 

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan Pendidikan nasional. Pasal 1 UUD Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan ahlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga kepribadian atau karakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Selain itu, Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 26 tentang Kewajiban & Tanggung Jawab Orangtua dan Keluarga untuk Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak serta menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya. 

Pendidikan karakter atau pendidikan budi pekerti, yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Menurut Thomas Lickoma, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal yang penting dalam mempersiapkan anak menyambut masa depannya, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya dimulai di usia kanak – kanak atau yang biasa disebut oleh para ahli Psikologi sebagai usia emas (Golden Age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabiitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. 

Selain itu, saat usia dini, lebih mudah membentuk karakter anak. Sebab, ia lebih cepat menyerap perilaku dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini, perkembangan mental berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu, lingkungan yang baik akan membentuk karakter yang positif begitupun sebaliknya. Pengalaman anak pada tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah ia akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya. 

Namun bagi sebagian keluarga, proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak dengan rutinitas yang padat. Karena itu sebaiknya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak–anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Disinilah peran guru, yang dalam filosofi jawa disebut digugu dan ditiru, dipertaruhkan, karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

*) ditulis oleh Nadia Panca Agustina

Posting Komentar

0 Komentar